Teori yang menyatakan komet sebagai pembawa bahan dasar kehidupan ke Bumi kini dipertanyakan menyusul temuan sebuah penelitian terbaru. Riset tersebut mengungkapkan bahwa benturan komet dengan Bumi purba kemungkinan besar justru menghancurkan molekul organik yang dibawanya karena suhu dan tekanan yang ekstrem saat tumbukan.
Simulasi Komputer Ungkap Kendala Tumbukan Komet
Temuan yang dimuat dalam jurnal Scientific Reports ini berpotensi menggoyahkan teori panspermia—gagasan bahwa bahan pembentuk kehidupan berasal dari luar angkasa—yang telah berkembang selama puluhan tahun sejak 1908 dan 1961. Selama ini, komet yang tersusun atas es, debu, serta material organik diyakini berperan menyediakan air dan senyawa organik untuk memulai proses kimia pembentukan kehidupan di Bumi.
Untuk menguji teori tersebut, tim peneliti menggunakan model pembentukan dan evolusi komet guna mensimulasikan kondisi Bumi purba lebih dari 4 miliar tahun lalu sebanyak 100.000 kali. Hasilnya menunjukkan sebanyak 54 persen simulasi tidak memperlihatkan adanya tumbukan komet, sementara 46 persen sisanya mencatat setidaknya satu tumbukan dengan sebagian sangat kecil yang menghasilkan hingga tiga tabrakan.
Richard Anslow, peneliti yang melakukan riset tersebut saat menempuh program doktoral di Institute of Astronomy, University of Cambridge, Inggris, menjelaskan bahwa sebagian besar tumbukan tidak memungkinkan molekul organik bertahan. Berdasarkan simulasi dan lingkungan permukaan Bumi purba, secara rata-rata tidak ada tumbukan yang berhasil, seperti dilaporkan CNN, Minggu (1/11/2026).
Ia menambahkan, kecepatan tumbukan komet yang sangat tinggi membuat material di dalamnya berisiko rusak sebelum sempat dimanfaatkan. Menurut Anslow, kecepatan tersebut membuat sangat sedikit komet, jika ada, yang mampu mengantarkan molekul organik secara utuh ke Bumi.
Dampak Terhadap Hidrogen Sianida dan Alternatif Asal-usul Kehidupan
Penelitian tersebut secara khusus menyoroti hidrogen sianida (HCN), yakni senyawa alami yang terdiri dari hidrogen, karbon, dan nitrogen yang telah terdeteksi pada puluhan komet seperti Komet Halley dan Hale-Bopp. HCN merupakan prekursor penting dalam proses kimia prebiotik yang dapat menghasilkan asam amino pembentuk protein saat bereaksi dengan air, tetapi kondisi tekanan dan suhu tinggi saat tumbukan dapat menghancurkan senyawa tersebut.
Anslow menjelaskan bahwa sekiranya ada tumbukan yang membuat sebagian HCN bertahan, jumlahnya tetap tidak mencukupi untuk mendukung proses kimia pembentukan kehidupan. Selain itu, HCN yang jatuh ke lautan berpotensi cepat larut sehingga konsentrasinya menjadi terlalu rendah, sementara unsur lain seperti fosfor dan sulfur yang dibutuhkan dalam reaksi prebiotik tidak secara rutin ditemukan dalam komet.
Apabila komet bukan pemasok utama, para peneliti melihat kemungkinan lain, seperti sup purba di Bumi yang mampu menghasilkan sendiri molekul yang dibutuhkan melalui reaksi kimia alami. Di sisi lain, asteroid menjadi kandidat alternatif karena menghantam Bumi dengan kecepatan lebih rendah dan jumlah yang lebih besar, ditambah temuan dari sampel asteroid Bennu dan Ryugu yang terbukti mengandung sebagian besar asam amino.
Selain Bumi, riset ini membuka kemungkinan komet memiliki peran lebih besar dalam memasok bahan kimia pembentuk kehidupan di Mars purba. Ukuran Mars yang lebih kecil dan jaraknya yang lebih jauh dari Matahari membuat kecepatan tumbukan komet di planet tersebut lebih rendah, sehingga molekul HCN memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.
Meskipun demikian, Queenie Chan, profesor madya ilmu kebumian di Royal Holloway University of London yang tidak terlibat dalam riset tersebut, menilai ada kemungkinan HCN telah mengalami reaksi kimia sebelum memasuki atmosfer Bumi dan menghasilkan senyawa yang lebih stabil. Pandangan serupa disampaikan Nicolle Zellner, profesor fisika di Albion College, Michigan, yang menilai penelitian ini memberikan batasan yang lebih jelas mengenai probabilitas komet dalam mengantarkan bahan dasar kehidupan tanpa serta-merta mengesampingkan perannya.








