Daftar Isi
Sebuah kota kecil di Témiscaming, Quebec, Kanada, terancam menjadi kota mati setelah pabrik kertas utama yang menjadi tumpuan ekonomi setempat berhenti beroperasi. Penutupan ini terjadi menyusul kegagalan perundingan perdagangan antara Kanada dan Amerika Serikat serta penerapan tarif impor baru oleh Presiden Donald Trump.
Dampak Penutupan Pabrik bagi Warga
Sebagian besar dari 360 pegawai pabrik kini kehilangan pekerjaan dan hanya mengandalkan bayaran parsial dari program bantuan tarif pemerintah. Salah seorang warga, Nadine Suley, menuturkan kepada BBC News Indonesia bahwa penutupan pabrik tersebut bukan sekadar kehilangan pekerjaan, melainkan juga cara hidup mereka. Menurut Suley, tarif yang diterapkan AS terasa bagaikan serangan pribadi terhadap kotanya.
Pemilik pabrik asal Amerika Serikat, RYAM, memutuskan melakukan penghentian operasional ekonomi tanpa batas waktu tertentu pada awal Oktober. Akibatnya, nilai properti di wilayah tersebut merosot drastis dan tanda rumah dijual mulai bermunculan di berbagai sudut kota. Warga khawatir para pekerja layanan esensial, mulai dari pegawai toko kelontong hingga dokter di rumah sakit lokal, juga akan meninggalkan kota.
Ronnie Raymond, warga yang keluarganya turun-temurun bekerja di pabrik tersebut, menyatakan bahwa jika pabrik itu benar-benar tutup, wilayah tersebut tidak akan menyisakan apa pun dan berubah menjadi kota hantu. Sementara itu, Stéphane Lefebvre, seorang karyawan sekaligus pemimpin serikat pekerja, menilai bahwa hilangnya lapangan pekerjaan sebesar sepuluh persen di kota besar seperti Toronto atau Montreal pasti akan menjadi sorotan utama media dan memicu tekanan besar bagi pemerintah.
Upaya Pembelian Kembali oleh Warga
Warga setempat kini berencana menggalang koalisi untuk membeli kembali pabrik tersebut dari RYAM yang membelinya pada tahun 2017. Langkah serupa pernah dilakukan pada tahun 1973 ketika pemilik pabrik asal Amerika Serikat saat itu mengancam menutupnya, yang kemudian memotivasi para pekerja dan manajer bersatu untuk mendirikan Tembec.
Lefebvre menyebutkan bahwa mereka berharap sejarah dapat terulang kembali, namun upaya tersebut tidak akan berhasil tanpa bantuan signifikan dari Perdana Menteri Mark Carney dan pemerintah Quebec. Mayor Alain Gauthier berpendapat bahwa Ottawa seharusnya membalas kebijakan tersebut dengan mengenakan bea masuk sendiri pada produk papan asal AS yang saat ini masuk tanpa tarif. Gauthier menambahkan bahwa pemerintah tampak menggunakan senjata mainan dalam menghadapi perang dagang ini.
Di sisi lain, juru bicara Menteri Perindustrian Mélanie Joly menyampaikan kepada BBC News Indonesia bahwa pemerintah telah menyediakan dana sebesar 400 juta dolar untuk mendukung sektor kehutanan di daerah pedesaan dan terpencil. Pemerintah juga meluncurkan program untuk membantu bisnis yang terdampak tarif agar dapat mengakses arus kas sementara.
Respons Pemerintah dan Kebijakan Tarif
Pada bulan Agustus lalu, AS memberlakukan bea masuk sebesar 50 persen terhadap barang-barang asal Kanada senilai sekitar 28 miliar dolar, termasuk produk kayu dan kertas. Sebagai tanggapan, Kanada menerapkan tarif balasan yang sepadan. Pabrik di Témiscaming, yang memproduksi papan kertas untuk kemasan makanan beku dan tiket lotere, mengirimkan sekitar 75 persen produksinya ke pasar Amerika Serikat.
Frank Dottori, mantan insinyur yang kini berusia 80-an dan pensiun di Témiscaming, berperan penting dalam mengorganisasi karyawan pada tahun 1970-an untuk mengambil potong gaji sepuluh persen demi membeli pabrik secara kolektif. Dottori berpendapat bahwa generasi pekerja saat ini membutuhkan sosok pemimpin yang tegas dan berani untuk mengulangi kesuksesan tersebut.
Sebagian warga kini menaruh harapan pada pemilihan paruh waktu di AS untuk menekan Presiden Trump agar melonggarkan kebijakan tarifnya. Gedung Putih sendiri telah mencabut sebagian tarif pada barang-barang Kanada pekan lalu setelah adanya lobi dari Senator Maine, Susan Collins. Meski demikian, perubahan tersebut belum mencakup produk-produk dari pabrik Témiscaming.
Warga berharap penyelesaian dapat segera tercapai sebelum musim dingin tiba, karena suhu di bawah nol derajat dapat membekukan peralatan di pabrik yang menganggur dan memicu kerusakan yang semakin mempersulit proses pembukaan kembali. Lefebvre menegaskan bahwa ia tetap bertekad memperjuangkan kepemilikan pabrik oleh warga lokal apa pun hasil akhirnya.
Sumber: BBC News








