Kondisi ekonomi Amerika Serikat menunjukkan sinyal yang bertolak belakang menjelang pemilu sela, di mana pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat tetapi tingkat inflasi dan biaya hidup terus membumbung. Situasi ini menempatkan isu keterjangkauan ekonomi sebagai fokus utama para pemilih yang bersiap memberikan suara mereka.
Pertumbuhan PDB Ditopang Sektor Teknologi
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan AS, inflasi pada September tercatat sebesar 3,6 persen, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Angka tersebut juga lebih tinggi ketimbang saat Presiden Trump kembali ke Gedung Putih. Lonjakan harga barang kebutuhan membuat hampir dua pertiga warga Amerika tidak puas dengan pengelolaan ekonomi oleh pemerintah. Pemilih sempat memprotes Partai Demokrat akibat inflasi pada 2024, dan kali ini ancaman serupa membayangi Partai Republik.
Di sisi lain, PDB Amerika Serikat mencatatkan kenaikan tingkat tahunan sebesar 3,4 persen pada triwulan ketiga, melampaui capaian triwulan sebelumnya yang berada di angka 2,2 persen. Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menilai perkembangan tersebut sebagai indikator positif. “The economy is strong. The economy is pointing in the right direction,” ujar Warsh.
Namun, pendorong utama dari lonjakan PDB tersebut berasal dari investasi berskala besar di bidang kecerdasan buatan, seperti pembangunan pusat data. Pertumbuhan aktivitas ekonomi ini belum diimbangi dengan penciptaan lapangan kerja baru secara luas di sektor-sektor lain.
Pasar Tenaga Kerja dan Sektor Perumahan Lemah
Pasar tenaga kerja tercatat masih lambat dengan penambahan hanya 29.000 lapangan kerja pada September. Meskipun angka pengangguran berada di level 4,2 persen, tingkat perekrutan karyawan baru sangat rendah sehingga para pekerja enggan berpindah pekerjaan dan tekanan untuk menaikkan upah menjadi minim.
Kepada NPR, Kepala Ekonom Moody’s Analytics Mark Zandi menjelaskan bahwa kondisi perekrutan saat ini tidak mencerminkan pasar tenaga kerja yang sehat. “There’s no hiring. Hiring rates are extraordinarily low, and that’s just not consistent with a healthy labor market,” kata Zandi. Data terbaru menunjukkan pengeluaran konsumen pada September tumbuh 2,5 kali lebih cepat ketimbang kenaikan upah.
Tingginya suku bunga pinjaman juga terus menekan sektor perumahan. Rata-rata suku bunga KPR berjangka 30 tahun bertahan di kisaran 7,25 persen meskipun Federal Reserve tidak menaikkan suku bunga acuan jangka pendek. Zandi mengungkapkan bahwa suku bunga di atas 7 persen menahan minat calon pembeli rumah, di mana komponen perumahan dalam PDB mencatatkan nilai negatif dalam delapan dari sepuluh triwulan terakhir.
Sumber: NPR Topics: News







