luar negeri

Krisis Panti Asuhan Inggris: Belajar dari Model Denmark

Krisis Panti Asuhan Inggris: Belajar dari Model Denmark
Daftar Isi
  1. Krisis Layanan Pengasuhan Anak di Inggris
  2. Model Pengasuhan Terapeutik di Denmark
  3. Rencana Reformasi dan Tantangan Privatisasi

Menteri Anak Inggris Josh MacAlister mengunjungi Kopenhagen, Denmark, untuk mempelajari sistem pengasuhan anak di negara tersebut. Langkah ini merupakan bagian dari peninjauan Departemen Pendidikan Inggris guna merumuskan solusi atas krisis serius yang melanda panti asuhan di negaranya.

Krisis Layanan Pengasuhan Anak di Inggris

Kondisi sistem pengasuhan anak di Inggris saat ini berada dalam situasi kritis. Seperti dilaporkan The Guardian, sebanyak 669 anak tinggal di panti asuhan tidak terdaftar atau ilegal sepanjang tahun lalu. Pemerintah daerah di Inggris terpaksa mengucurkan dana publik lebih dari 125 juta poundsterling untuk membiayai fasilitas tak resmi tersebut.

Secara keseluruhan, anggaran pengeluaran untuk panti asuhan di Inggris melonjak 96 persen dalam lima tahun terakhir hingga melebihi 3,1 miliar poundsterling pada periode 2023–2024. Kendati biayanya sangat tinggi, kualitas layanan justru menurun. Perusahaan private equity mengeruk keuntungan besar, sementara makin banyak anak yang dikirim ke panti asuhan yang berjarak ratusan mil dari daerah asal mereka.

MacAlister mengakui keberadaan panti asuhan tidak terdaftar tersebut sebagai sistem bayangan yang tidak memberikan dukungan terapeutik meskipun menelan biaya yang sangat besar. Ia menegaskan perlunya perombakan besar-besaran dalam reformasi layanan sosial anak di Inggris.

Model Pengasuhan Terapeutik di Denmark

Salah satu lokasi yang ditinjau oleh MacAlister adalah Rumah Josephine Schneider di Kopenhagen. Panti asuhan yang telah berdiri selama 140 tahun ini menampung 12 anak dan remaja berusia 6 hingga 23 tahun, dengan pendekatan yang sangat berbeda dibandingkan mayoritas panti asuhan di Inggris.

Fasilitas di Kopenhagen ini didukung oleh staf berpendidikan sarjana di bidang pedagogi sosial, sebuah disiplin ilmu yang berfokus pada psikologi, perkembangan anak, dan etika. Para staf menciptakan suasana rumah tangga yang hangat dengan memasak dan makan bersama anak-anak. Seorang juru masak khusus bernama Rasmus disiapkkan untuk mengolah makanan sekaligus mengajak anak-anak terlibat dalam proses memasak dan berbelanja.

Wakil Direktur Rumah Josephine Schneider, Mads Sørensen, menjelaskan bahwa seluruh pola pengasuhan di tempatnya dirancang untuk memberikan efek pemulihan. “Kami tidak memiliki terapis internal, tetapi semua yang kami lakukan bersifat terapeutik,” kata Sørensen kepada The Guardian.

Setiap pagi, staf mendampingi dan membangunkan anak-anak pada pukul 07.00 sesuai dengan kenyamanan masing-masing untuk menciptakan rasa aman serta menenangkan sistem saraf mereka. Kebanyakan anak yang ditampung pernah mengalami penelantaran fisik maupun emosional, serta menghadapi masalah seperti kecemasan, gangguan tidur, hingga perilaku melukai diri.

Berbeda dari panti asuhan di Inggris yang acap kali membuat anak-anak merasa terisolasi dari keluarga dan teman, panti di Denmark justru mendorong interaksi sosial. Anak-anak diperbolehkan mengundang teman untuk menginap saat akhir pekan atau liburan, serta terdapat acara rutin bersama orang tua. Bagi penghuni berusia 17 tahun ke atas, disediakan fasilitas apartemen semi-mandiri di lantai atas untuk melatih mereka hidup mandiri sebelum menginjak usia dewasa.

Rencana Reformasi dan Tantangan Privatisasi

Aturan di Inggris saat ini mewajibkan remaja untuk keluar dari panti asuhan segera setelah berusia 18 tahun. MacAlister menilai batasan usia yang kaku tersebut berdampak buruk bagi masa depan anak dan berencana untuk mengubahnya. Ia juga ingin menerapkan budaya pengasuhan Denmark yang berfokus pada pertumbuhan pribadi dan menjaga hubungan keluarga, ketimbang berfokus pada batasan risiko.

Direktur Lighthouse Pedagogy Trust, Emmanuel Akpan-Inwang, yang memimpin tim peninjau sektor pengasuhan anak Inggris, menyatakan bahwa profesi pengasuh panti di Denmark sangat diminati dan kompetitif. Hal ini membuat tingkat retensi staf di Denmark sangat tinggi, di mana banyak pekerja bertahan selama 10 tahun atau lebih. Sebaliknya, di Inggris, sekitar 53 persen staf panti asuhan hanya bertahan tiga tahun atau kurang akibat minimnya pelatihan, kondisi kerja yang berat, dan gaji yang rendah.

Struktur kepemilikan fasilitas pengasuhan di kedua negara juga berbeda secara signifikan. Di Denmark, sepertiga panti asuhan dikelola oleh publik, 42 persen bersifat nirlaba, dan hanya 27 persen dikelola oleh swasta komersial. Sementara di Inggris, sebanyak 83 persen panti asuhan dikuasai oleh perusahaan swasta, dengan sebagian pengelola mencatatkan margin keuntungan melebihi 20 persen.

Pemerintah Inggris kini sedang menyiapkan badan pengawas pasar baru untuk memantau transparansi keuangan sebelum memberlakukan batas atas keuntungan bagi penyedia layanan swasta. Di sisi lain, pemerintah Wales bergerak lebih cepat dengan merencanakan pelarangan total terhadap penyedia pengasuhan anak berorientasi profit pada tahun 2030. MacAlister menambahkan bahwa Inggris perlu memperkuat peran pemerintah daerah agar dapat mengambil alih kendali sistem pengadaan dan mengutamakan skenario orang tua asuh.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *