Lifestyle

Studi Sebut Punya Atasan Toxic Bisa Bikin Cepat Tua

Studi Sebut Punya Atasan Toxic Bisa Bikin Cepat Tua
Daftar Isi
  1. Kaitan Atasan Toxic dengan Penuaan Biologis
  2. Dampak Tekanan Kronis pada Tubuh
  3. Mengenali Atasan yang Menjadi Sumber Stres
  4. Cara Memulihkan Diri

Memiliki atasan yang gemar mengkritik, sulit diajak berkomunikasi, atau kerap memberikan tekanan berlebihan bisa membuat suasana kerja terasa melelahkan. Jika berlangsung terus-menerus, hubungan interpersonal yang penuh tekanan ini berpotensi berdampak pada kesehatan tubuh, termasuk memicu proses penuaan biologis.

Kaitan Atasan Toxic dengan Penuaan Biologis

Sebuah penelitian yang dilakukan peneliti dari New York University (NYU) menemukan bahwa keberadaan orang yang sulit dihadapi dalam lingkaran sosial berkaitan dengan peningkatan usia biologis sebesar 1,5 persen, yang setara dengan sekitar sembilan bulan penuaan. Penelitian yang melibatkan lebih dari 2.300 orang dewasa tersebut dipimpin oleh Byungkyu Lee, asisten profesor sosiologi di NYU, dengan mengumpulkan informasi peserta dan sampel air liur untuk menganalisis usia biologis mereka.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) tersebut menunjukkan hampir 30 persen responden memiliki setidaknya satu orang yang kerap menjadi sumber masalah dalam lingkaran sosialnya, sementara sekitar 10 persen memiliki dua orang atau lebih. Sosok tersebut bisa berupa rekan kerja yang selalu menolak tugas baru hingga atasan yang kerap memberikan kritik menyakitkan.

Mengutip CNA, ketika berhadapan dengan atasan yang sulit, tubuh dapat memberikan respons stres seperti jantung berdebar lebih cepat, tubuh terasa panas, hingga muncul ketegangan. Presiden Singapore Psychological Society sekaligus psikolog klinis terdaftar, Adrian Toh, mengatakan respons tersebut sebenarnya normal untuk menghadapi situasi sulit dalam jangka pendek.

Dampak Tekanan Kronis pada Tubuh

Namun, jika tekanan interpersonal terjadi berulang kali atau berlangsung lama tanpa kesempatan memulihkan diri, dampaknya bisa menumpuk. Psikoterapis sekaligus pendiri pusat konseling ICCT, Serene Lee, menjelaskan bahwa tekanan tidak selalu muncul akibat satu perkataan menyakitkan, melainkan dari keberadaan di sekitar seseorang yang perilakunya sulit diprediksi sehingga membuat seseorang terus merasa waspada dan takut melakukan kesalahan.

Kondisi tersebut membuat tubuh seolah terus berada dalam mode stres tanpa istirahat yang cukup sehingga kualitas tidur, suasana hati, dan kesehatan terganggu. Penelitian tersebut mencatat stres kronis memengaruhi aktivitas gen yang mengatur peradangan dan proses penuaan, serta memicu sakit kepala, ketegangan otot, gangguan pencernaan, tidur gelisah, kelelahan, hingga perubahan nafsu makan.

Mengenali Atasan yang Menjadi Sumber Stres

Tidak semua kritik di tempat kerja berarti seseorang memiliki atasan toxic karena memberikan masukan adalah bagian dari hubungan profesional. Kepala grup TOUCH Counselling & Psychological Services, Andrea Chan, menggambarkan orang yang sulit dihadapi sebagai individu yang tidak mau berkompromi, agresif, pesimistis, gemar mengkritik, serta tidak menghormati batasan pribadi.

Untuk mengetahui apakah atasan menjadi sumber stres, Lee menyarankan agar seseorang mengenali pola emosional yang muncul, seperti merasa cemas setiap kali menerima pesan atau telepon, sulit tidur sebelum hari kerja, atau merasa lebih rileks ketika atasan tersebut tidak berada di sekitar.

Cara Memulihkan Diri

Merasa kesal setelah menghadapi atasan yang sulit merupakan respons manusiawi sehingga seseorang tidak perlu memaksakan diri untuk selalu tenang. Toh menyarankan agar seseorang memberikan waktu kepada diri sendiri untuk menenangkan emosi melalui cara sederhana seperti berjalan kaki sejenak, mengatur napas, mandi, mendengarkan musik, berolahraga, atau duduk tenang selama sekitar 10 menit.

Toh juga menyarankan untuk mencoba berempati dan mempertimbangkan kemungkinan lain di balik perilaku seseorang, meski menjaga batasan pribadi tetap penting untuk melindungi kesehatan emosional. Ia mengingatkan agar hasil penelitian ini tidak dimaknai sebagai alasan untuk menghindari semua orang yang dianggap sulit, karena studi ini baru menemukan hubungan antara relasi sosial penuh tekanan dan penanda biologis penuaan tanpa membuktikan hubungan sebab akibat langsung.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *