Daftar Isi
Skena kompetitif game Free Fire resmi mengalami perubahan format dengan ditiadakannya FFWS SEA yang digantikan oleh kompetisi tingkat nasional. Skema baru yang berlaku di seluruh wilayah Asia Tenggara ini kini menjadi satu-satunya jalur bagi tim-tim dari Indonesia untuk dapat melaju ke panggung kejuaraan dunia.
Tanggapan Beragam dari Para Pelatih Tim Top
Keputusan tersebut mendulang beragam respons, terutama dari tim-tim asal Indonesia yang menjadi langganan peserta FFWS SEA seperti RRQ Kazu, Onic, dan pemenang FFWS SEA 2026 Fall, Bigetron by Vitality. Ketiga tim tersebut sebelumnya telah berjuang keras mempertahankan tempat mereka di level regional agar tidak terdegradasi ke turnamen nasional.
Pelatih RRQ Kazu, Ady, menyampaikan rasa kecewanya atas perubahan aturan ini. Saat ditemui usai acara pelepasan tim Free Fire Indonesia menuju FFWS Global Finals 2026 di Jakarta Selatan, Jumat (30/10), ia mempertanyakan kejelasan keputusan tersebut setelah perjuangan keras timnya musim lalu.
“Berjuang se-all in mungkin untuk gimana caranya kita nggak degradasi, gimana caranya kita stay di SEA gitu kan. Jadi itu ada jadi salah satu pertanyaan besar dari tim yang memang sudah try hard di season kemarin. Kok bisa seperti ini? Kenapa?” kata Ady kepada detikcom.
Dampak Terhadap Ekosistem dan Tingkat Persaingan
Pandangan senada juga disampaikan oleh pelatih Onic, AFM. Ia merasa sedih dan tidak setuju dari kacamata pelatih yang memegang slot SEA, sebab tim-tim eks-FFWS SEA tidak mendapatkan keuntungan dari perubahan format ini. Namun, dari sisi komunitas, ia menilai dampak positifnya dapat menghidupkan kembali ekosistem e-sports lokal.
“Nah ini bagus buat ekosistem dari Free Fire. Kan gak selamanya juga gue di Onic. Yang paling penting kan vibes dari FF tetap ada. Ekosistem esports tetap jalan kayak gitu. Jadi komunitas jalan, esports nya jalan,” jelas AFM.
Sementara itu, pelatih Bigetron, Chrisjo, memilih untuk menerima dan mengikuti regulasi yang telah ditetapkan. Ia memprediksi persaingan di kompetisi nasional mendatang akan menjadi jauh lebih berat lantaran hadirnya tim-tim baru dari komunitas serta kembalinya pelatih-pelatih lama yang telah mempelajari gaya permainan mereka.
“Cuman agak lebih challenging, karena ya ada tim-tim Indonesia yang baru mungkin dari community, mungkin ada coach-coach lama yang berdatangan kembali, ya mereka mungkin udah analisa kita punya gameplay jauh lebih lama. Nah kalau kita masuk ke situ, ya mungkin kembali lagi Itu akan challenging. Itu doang,” ungkap Chrisjo.
Alokasi Tiket Global Finals dan Total Hadiah Turnamen
Melalui format baru ini, Asia Tenggara mendapatkan total delapan tiket menuju panggung utama turnamen global Free Fire. Tiket langsung diberikan kepada Indonesia (dua tim), Thailand (dua tim), Vietnam (dua tim), dan Malaysia (satu tim).
Satu tiket tersisa bakal diperebutkan oleh 12 tim di babak Last Chance Qualifier. Babak penentuan ini akan diisi oleh tim peringkat ketiga hingga kelima dari FFWS Indonesia, Thailand, dan Vietnam, serta tim peringkat kedua hingga keempat dari FFWS Malaysia.
Kompetisi FFWS di kawasan Asia Tenggara ini menyiapkan total hadiah mencapai USD 1,4 juta per tahun yang dibagi ke dalam dua musim, yaitu Spring dan Fall. Untuk setiap musimnya, FFWS Indonesia, Thailand, dan Vietnam menyediakan total hadiah masing-masing sebesar USD 200 ribu, sedangkan FFWS Malaysia mengalokasikan total hadiah sebesar USD 100 ribu.
Sumber: Inet - Detikcom







