Restoran waralaba Cheesecake Factory tiba-tiba menjadi bahan perbincangan politik di Amerika Serikat pekan ini. Perdebatan ini bermula dari kritik terhadap dekorasi Gedung Putih yang berujung pada aksi makan siang pejabat tinggi.
Kritik Politik dan Balasan Menu Klasik
Dalam sebuah acara kampanye di Ohio, mantan Presiden Barack Obama melontarkan kritik terhadap kecintaan Presiden Trump pada dekorasi emas. Obama menyatakan bahwa interior Gedung Putih tampak seperti tempat yang didekorasi oleh Saddam Hussein yang membuka cabang Cheesecake Factory.
Merespons pernyataan tersebut, Menteri Keuangan pilihan Trump, Scott Bessent, memilih untuk menyantap menu French Dip Cheeseburger di gerai Cheesecake Factory yang terletak di dekat Gedung Putih. Kepada para wartawan, Bessent memuji hidangan tersebut dan menyarankan kelompok elit untuk mencobanya.
Gagasan Jamuan Kenegaraan Baru
Perdebatan politik ini memunculkan gagasan alternatif mengenai penyelenggaraan jamuan kenegaraan. Alih-alih merogoh kocek hingga ratusan juta dolar untuk membangun ruang dansa baru di Gedung Putih, acara kenegaraan dinilai bisa digelar langsung di restoran tersebut.
Jamuan kenegaraan resmi kerap menyajikan menu kaku seperti *yellow squash velouté* atau *fricassée of fava beans*. Sebaliknya, jaringan restoran Cheesecake Factory menawarkan kebebasan memilih dengan daftar menu yang mencakup lebih dari dua ratus lima puluh jenis hidangan, mulai dari *Chicken and Waffle Skewers* hingga *Buffalo Blasts*.
Pemindahan lokasi jamuan kenegaraan ke restoran kasual ini dinilai dapat mencairkan suasana bagi para pemimpin dunia yang hadir. Pemimpin asing bahkan diklaim bisa saja lebih memilih menu seperti *Fried Macaroni and Cheese balls* saat membahas kesepakatan dagang internasional.
Sumber: NPR Topics: News







