luar negeri

Diplomats Eropa Boikot Menteri Luar Negeri Rusia di G20

Diplomats Eropa Boikot Menteri Luar Negeri Rusia di G20
Daftar Isi
  1. Penolakan Diplomasi Eropa
  2. Seruan Persatuan dan Krisis Global
  3. Pernyataan Moskow dan Respons Negara Lain
  4. Hubungan AS-Rusia dan Isu Afrika Selatan

Pertemuan tingkat menteri luar negeri G20 di Atlanta, Amerika Serikat, diwarnai ketegangan pada Jumat setelah para diplomat top Eropa menolak untuk berfoto bersama Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang bertindak sebagai tuan rumah, akhirnya memutuskan untuk membatalkan sesi foto bersama tersebut agar tidak menjadi tontonan atau gangguan sebelum pertemuan dimulai.

Penolakan Diplomasi Eropa

Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyatakan kepada para wartawan sebelum sesi pertama pada hari Jumat bahwa tidak akan ada foto bersama yang melibatkan mitra-mitra Eropa dan Sergey Lavrov. Menurut Wadephul, langkah tersebut diambil karena tidak ada kenormalan dalam hubungan dengan Rusia.

Pertemuan dua hari kelompok G20 yang mencakup Uni Eropa, Rusia, Jerman, India, China, Brasil, serta negara-negara besar lainnya ini dipersiapkan sebagai pendahulu bagi KTT pemimpin G20 yang dijadwalkan berlangsung pada Desember mendatang di klub golf milik Presiden AS Donald Trump di Miami.

Seruan Persatuan dan Krisis Global

Marco Rubio membuka rangkaian pembicaraan dengan menekankan pentingnya persatuan dalam menghadapi berbagai isu utama dan menyebut para hadirin berada dalam momen yang sangat kritis. Ia menyoroti serangkaian krisis ekonomi serta geopolitik yang saling terhubung dan menyebut gangguan pada energi serta perdagangan global memberikan ancaman berat bagi fondasi tatanan ekonomi dunia.

Di sisi lain, sejumlah negara termasuk Amerika Serikat dan Rusia terlibat dalam perang yang terpisah, di mana konflik di Iran dan Ukraina menyebabkan lonjakan harga pangan global. Meskipun pesan utama pertemuan ini berkaitan dengan persatuan dan pencarian solusi atas masalah seperti kebebasan navigasi di Laut Hitam dan Selat Hormuz, pencapaian titik temu dinilai akan jauh lebih sulit.

Minat besar juga muncul untuk meminta tanggapan Lavrov mengenai pendirian Moskow terkait pembicaraan di masa depan dengan Kyiv, menyusul momentum baru untuk menghidupkan kembali perundingan guna mengakhiri perang di Ukraina.

Pernyataan Moskow dan Respons Negara Lain

AS telah mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin ke KTT G20 di Miami, meskipun belum jelas apakah undangan tersebut telah diterima. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebelumnya menyatakan terbuka untuk bepergian ke Miami guna melakukan pembicaraan dengan Putin jika pemimpin Rusia itu hadir.

Kremlin sejauh ini menolak pertemuan langsung dengan Zelenskyy, sementara Sergey Lavrov menyampaikan kepada Deutsche Welle di sela-sela pertemuan bahwa Putin bersedia menemui pemimpin Ukraina tersebut jika ia bersedia datang ke Moskow. Lavrov menyatakan Presiden Putin bersedia bertemu dan pihak Rusia akan menjamin keselamatan Zelenskyy, meski Lavrov enggan memastikan apakah Putin akan menghadiri KTT G20 pada Desember mendatang.

Sementara itu, diplomat tinggi Uni Eropa Kaja Kallas mengungkapkan bahwa para menteri dalam pertemuan G20 dapat secara langsung menanggapi kebohongan dan narasi palsu yang dikemukakan oleh Lavrov di meja perundingan. Senada dengan hal tersebut, Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband menegaskan bahwa komitmen terhadap nilai-nilai dan kepentingan bersama harus diiringi dengan upaya yang lebih keras untuk mengamankan perdamaian yang adil dan langka di Ukraina.

Hubungan AS-Rusia dan Isu Afrika Selatan

Lavrov, yang berada di bawah sanksi internasional akibat perang Rusia di Ukraina, diundang ke AS pada saat kedua negara tampak membina hubungan yang lebih hangat setelah Trump mengumumkan kesepakatan diesel dan mencabut sanksi baru terhadap energi Rusia. Namun, Lavrov menyatakan pada hari Jumat bahwa dalam praktiknya belum terlihat kemajuan nyata dalam hubungan dengan Amerika Serikat dan dirinya tidak memiliki ilusi.

Dalam perkembangan lain, Afrika Selatan sebagai salah satu anggota pendiri G20 dikecualikan dari pertemuan di AS akibat perselisihan terkait kebijakan visa yang diberlakukan Washington. Ukraina, yang bukan anggota G20 namun sempat diundang dalam pertemuan sebelumnya, juga tidak diundang karena pejabat AS memilih untuk hanya menyertakan anggota formal kelompok tersebut.

Pertemuan G20 ini diperkirakan tidak akan menghasilkan konsensus bersama di akhir pembahasan akibat banyaknya isu yang ada di atas meja. Berdasarkan laporan kantor berita AFP, pertemuan tersebut diprediksi akan ditutup dengan ringkasan ketua yang disusun oleh pihak AS.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *