Kasus penipuan perusahaan rintisan darah Theranos kembali menjadi sorotan publik lewat dokumenter terbaru berjudul “You Can See Everything”. Di tengah perhatian tersebut, pelapor pelanggaran pertama Theranos, Tyler Shultz, memberikan peringatan penting mengenai maraknya investasi di era kecerdasan buatan (AI) saat ini.
Peringatan di Era Kecerdasan Buatan
Menurut Shultz dalam wawancara dengan The San Francisco Standard, kisah peringatan dari Theranos kini mendapati makna baru ketika industri memasuki puncak era AI, di mana banyak perusahaan yang belum pernah mencetak keuntungan berhasil menggalang modal hingga valuasi triliunan dolar. Shultz berpendapat bahwa kebiasaan memberikan pendanaan besar hanya berdasarkan pertemuan singkat tanpa uji tuntas yang ketat harus diakhiri, seperti yang dilakukan oleh Holmes dengan meningkatkan model tersebut ke angka yang sangat masif.
Kakek Shultz, yang merupakan mantan Menteri Luar Negeri dan Menteri Keuangan Amerika Serikat George Shultz, tercatat pernah menjadi salah satu investor dan anggota dewan di Theranos. Pendanaan untuk Theranos pada masa itu kerap berasal dari investor perorangan seperti keluarga DeVos dan Walton, bukan dari firma modal ventura besar, lantaran perusahaan menolak membagikan bukti ilmiah dengan alasan rahasia dagang.
Shultz menyatakan kepada The San Francisco Standard bahwa salah satu bahaya besar dari teknologi AI adalah tingkat kesulitan yang tinggi dalam melakukan uji tuntas secara mendalam. Ia menambahkan bahwa sangat sulit membedakan antara inovasi yang benar-benar unik dengan teknologi yang sekadar menggunakan lapisan ChatGPT biasa. Shultz menilai bahwa situasi saat ini menjadi celah yang sangat subur bagi pihak-pihak tertentu yang berniat melakukan penipuan.
Proyek Baru dan Bayang-bayang Masa Depan
Dokumenter “You Can See Everything” yang disutradarai oleh Nathan Fielder dan Lance Oppenheim merekam minggu-minggu terakhir Elizabeth Holmes sebelum menjalani hukuman penjara lebih dari 11 tahun. Film tersebut menyoroti bagaimana Holmes dan pasangannya, Billy Evans, tengah merintis perusahaan diagnostik baru bernama Haemanthus yang dijuluki sebagai Theranos versi kedua dan dilaporkan telah mengumpulkan pendanaan sekitar USD20 juta.
Shultz mengungkapkan perasaan gelisah terkait langkah-langkah yang mungkin akan diambil oleh pendiri Theranos tersebut berikutnya. Ia menyatakan bahwa Holmes saat ini sedang mempersiapkan babak kedua dalam hidupnya, meskipun ia belum dapat memastikan arah dari pergerakan tersebut.
Sumber: TechCrunch







