Daftar Isi
Peretas yang berafiliasi dengan rezim Korea Utara diduga bertanggung jawab atas pencurian kripto terbesar dalam sejarah setelah melancarkan serangan siber terhadap bursa kripto Binance. Para peretas dilaporkan menggondol aset kripto senilai sedikitnya 6,3 miliar dolar Amerika Serikat (sekitar Rp102 triliun) dari dompet digital perusahaan tersebut, meskipun separuh dari jumlah tersebut berhasil dibekukan saat bergerak lintas blockchain, menurut para peneliti keamanan.
Kronologi dan Investigasi Pembobolan
Melalui sebuah unggahan di platform X, Binance menyampaikan bahwa investigasi awal mereka menunjukkan peretas merangsek ke dalam jaringan perusahaan dengan menyasar komputer jinjing milik seorang teknisi Binance yang telah disusupi. Celah tersebut memungkinkan penyerang masuk ke wadah layanan dan mengajukan transaksi penarikan dana tanpa izin resmi.
Binance menyatakan bahwa mereka belum menemukan indikasi kebocoran kunci privat yang dapat memberikan kendali penuh kepada peretas atas seluruh cadangan kripto milik perusahaan. Sebagai langkah pengamanan, bursa kripto terbesar di dunia ini memutuskan untuk menghentikan sementara seluruh layanan penyetoran dan penarikan dana selagi proses investigasi berlangsung.
Seperti dilaporkan TechCrunch pada Kamis, pihak bursa telah menangguhkan penarikan pada sejumlah jaringan blockchain. Binance mengeklaim bahwa dana pengguna berada dalam kondisi aman, namun tidak langsung menyertakan bukti atas pernyataan tersebut dan berjanji akan mempublikasikan pembaruan bukti cadangan setelah proses pemulihan selesai.
Upaya Pemulihan dan Pelacakan Aset
Juru bicara Binance, Andie Cooper, menuturkan dalam pernyataan yang dibagikan kepada TechCrunch pada Jumat bahwa sekitar 3 miliar dolar Amerika Serikat (sekitar Rp48,5 triliun) telah dibekukan oleh mitra-mitra industri. Binance telah mulai memulihkan aset pengguna yang terdampak serta terus berkoordinasi dengan aparat penegak hukum, penerbit token, perusahaan intelijen blockchain, dan mitra industri guna melacak, membekukan, serta mengembalikan dana tambahan.
Meskipun mekanisme peretasan secara rinci serta kondisi spesifik kompromi pada perangkat karyawan belum sepenuhnya jelas, insiden keamanan siber kerap bermula dari penggunaan perangkat lunak yang telah disusupi pada perangkat pegawai. Perangkat lunak umumnya dibangun dari berbagai komponen termasuk proyek sumber terbuka yang kerap menjadi sasaran empuk peretas untuk memodifikasi dan mencuri data dari perangkat yang terpasang.
Di sisi lain, Binance harus menghadapi pertanyaan publik mengenai alasan sistem keamanan perusahaan mengizinkan satu komputer jinjing milik pegawai memiliki akses ke sistem yang mengontrol dana senilai miliaran dolar. Perwakilan Binance tidak merespons surel yang berisi pertanyaan seputar insiden pembobolan tersebut, sementara TechCrunch juga telah menanyakan apakah perusahaan sempat melakukan audit keamanan jaringan dan sistem sebelum serangan terjadi.
Keterlibatan Kelompok Peretas Korea Utara
Para peneliti keamanan dari perusahaan intelijen dan forensik blockchain TRM Labs mengaitkan aksi pembobolan tersebut dengan peretas asal Korea Utara serta menyebutnya sebagai peretasan terbesar sepanjang sejarah. Peneliti mendefinisikan jaringan peretas yang dikenal di industri keamanan siber sebagai TraderTraitor itu sebagai sel Korea Utara yang berfokus hampir secara eksklusif untuk mencuri aset kripto dari perusahaan dan bursa berskala besar.
Kelompok yang sama juga dituding berada di balik pencurian terbesar kedua dalam catatan sejarah, yakni raibnya dana sebesar 1,4 miliar dolar Amerika Serikat (sekitar Rp22,6 triliun) dari bursa kripto Bybit pada tahun 2025. Berdasarkan data TRM, proses pencurian dana miliaran dolar dari Binance tersebut hanya memakan waktu sekitar 20 menit.
Perusahaan keamanan blockchain Elliptic turut mengatribusikan pencurian di Binance kepada peretas Korea Utara dan menyebutkan bahwa sebagian dana curian berlabuh di dompet digital yang sama dengan serangan siber sebelumnya terhadap bursa kripto Bitget pada tahun ini, di mana peretas menggondol 351 juta dolar Amerika Serikat (sekitar Rp5,6 triliun).
Pemerintah Amerika Serikat beserta sekutunya telah lama mengeluarkan peringatan ihwal ancaman dari Korea Utara yang terisolasi dari sistem keuangan global akibat program pengembangan senjata nuklir yang terus berjalan. Peneliti mengungkapkan bahwa motivasi utama negara tertutup tersebut adalah merampok kripto sebanyak mungkin demi membiayai kelanjutan pengembangan senjata pemusnah massal yang sedang dijatuhi sanksi.
Sumber: TechCrunch







