Daftar Isi
Seruan untuk memperkuat pertahanan di Kepulauan Shetland mengemuka setelah tercatat adanya peningkatan penampakan kapal pukat asal Rusia di lepas pantai Skotlandia. Analisis dari Daily Telegraph juga mengungkapkan bahwa terdapat lebih dari 500 insiden kapal Rusia yang berada di atas kabel bawah laut yang menghubungkan Inggris dengan Eropa serta Amerika Serikat.
Kekhawatiran Kerentanan Kabel Bawah Laut
Kabel-kabel tersebut membawa sebagian besar data telekomunikasi ke luar negeri. Meningkatnya kepentingan infrastruktur bawah laut ini mendorong laporan parlemen pada tahun lalu untuk memperingatkan adanya kerentanan keamanan di berbagai bidang, termasuk transportasi, rantai pasokan, layanan keuangan, serta sistem pembayaran. Selain itu, terdapat kekhawatiran bahwa Pelabuhan Antariksa SaxaVord senilai 30 juta poundsterling di Shetland berpotensi menjadi sasaran Rusia.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah insiden kerusakan atau pemutusan kabel bawah laut telah terjadi di Laut Baltik. Pada Desember tahun lalu, kepolisian Finlandia menahan sebuah kapal dari Rusia yang diduga merusak kabel telekomunikasi bawah laut yang membentang dari Helsinki ke Estonia. Sementara itu pada 2022, Shetland sempat terisolasi dari wilayah daratan utama setelah kabel bawah laut di dekatnya mengalami kerusakan. Tahun lalu, dua insiden putusnya kabel juga sempat mengganggu layanan internet di Shetland dan membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk diperbaiki.
Meskipun tidak ada indikasi keterlibatan Rusia dalam insiden-insiden di Shetland, peristiwa tersebut menunjukkan betapa rapuhnya kabel-kabel itu serta dampaknya yang merusak bagi warga pulau. Pada Juli lalu, kapal perang dan helikopter Angkatan Laut Kerajaan menghabiskan waktu selama 21 hari untuk memantau aktivitas Rusia di perairan Inggris dan Atlantik Utara. Angka ini mencatatkan peningkatan sebesar 25 persen dari waktu pemantauan sebelumnya.
Sejarah Pertahanan dan Posisi Strategis Shetland
Jon Sandison, seorang guru sejarah sekolah menengah dan pemandu wisata Shetland, menyatakan terdapat kekhawatiran nyata bahwa Shetland bisa diserang setelah Jerman menginvasi Norwegia pada 1940 semasa Perang Dunia Kedua. Menurutnya, kepulauan tersebut sempat menjadi batu loncatan menuju Orkney dan daratan utama Skotlandia. Saat itu, personel darat, angkatan laut, dan RAF ditempatkan di seluruh pulau, sementara pertahanan pantai dibangun untuk mempertahankan Lerwick dan wilayah kepulauan lainnya.
Pelabuhan Antariksa SaxaVord sendiri berdiri di atas bekas pangkalan RAF, di mana RAF Skaw kala itu memegang peranan penting dalam upaya mendeteksi pesawat musuh mulai 1941. Pangkalan tersebut kemudian terlibat dalam jaringan radar NATO untuk memantau aktivitas Uni Soviet selama Perang Dingin. Stasiun radar itu ditutup pada 2006 sebelum dihidupkan kembali pada 2018 untuk pengawasan Arktik sebagai pos radar jarak jauh otomatis.
Sandison menilai bahwa meskipun kehadiran militer berkurang pada paruh kedua abad ke-20, posisi geografis Shetland tidak akan pernah berubah. Ia menyebut letak kepulauan tersebut akan senantiasa menjadi lokasi geografis yang krusial dalam kaitannya dengan Laut Utara, Lingkaran Arktik, dan cakupan wilayah Inggris yang lebih luas.
Tanggapan Para Politisi
Menteri Pertama Skotlandia John Swinney menuding pemerintah Inggris telah membiarkan garis pantai Skotlandia berada dalam kondisi yang rentan terhadap bahaya. Ia menunjuk perairan di sekitar Shetland sebagai kawasan yang mencatatkan aktivitas signifikan dari Rusia. Politisi dari Partai Liberal Demokrat, Alistair Carmichael, yang wilayah pemilihannya mencakup Shetland, mendesak pemerintah Inggris agar meningkatkan upaya perlindungan terhadap infrastruktur vital.
Carmichael menyampaikan kepada BBC Radio Scotland Breakfast bahwa persoalan ini menuntut penanganan serius, terlebih saat pemerintah sendiri mengimbau masyarakat untuk menyiapkan persediaan logistik darurat. Ia berpandangan bahwa apabila situasi dunia telah berubah drastis, sejumlah keputusan pemerintah Inggris untuk mencabut kehadiran militer dari kepulauan utara perlu ditinjau kembali. Carmichael menyebutkan bahwa dalam dua dekade terakhir, hanya terdapat satu prajurit penuh waktu yang bertugas mengelola unit cadangan di Shetland, dan kini pengelolaannya bahkan dialihkan dari daratan utama Skotlandia.
Ia mendesak agar keberadaan personel penuh waktu dipulihkan guna mendukung unit tersebut serta merekrut lebih banyak pasukan cadangan di kepulauan utara. “Jika sinyal yang dikirimkan pemerintah kepada masyarakat adalah bahwa kami bahkan tidak menganggapnya cukup penting untuk mengirim satu tentara penuh waktu guna menjalankan unit-unit ini, maka Anda tidak dapat mengharapkan masyarakat sendiri untuk sangat antusias mengenai hal itu,” ujarnya.
Signifikansi Pelabuhan Antariksa SaxaVord
SaxaVord yang berlokasi di Unst merupakan pelabuhan antariksa berlisensi penuh pertama di Inggris, dengan beberapa perusahaan menyatakan minat untuk memanfaatkan lokasi tersebut dalam meluncurkan satelit berukuran kecil ke orbit. Pada September lalu, pemerintah Inggris mengumumkan investasi sebesar 30 juta poundsterling untuk proyek itu sebagai bagian dari strategi antariksa baru senilai 7,8 miliar poundsterling. Alistair Carmichael menilai keberadaan pelabuhan antariksa tersebut akan menarik perhatian lebih besar terhadap Shetland sebagai aset yang penting.
Pemerintah Jerman dan Inggris berencana menggunakan SaxaVord guna mempererat kerja sama di bidang antariksa. Pada Oktober lalu, Perdana Menteri Andy Burnham dan Kanselir Friedrich Merz bertemu di Berlin untuk mengumumkan rencana kerja sama yang lebih erat terkait pertumbuhan ekonomi, pertahanan, serta teknologi. Pelabuhan Antariksa SaxaVord ditetapkan sebagai titik fokus untuk pengerjaan langsung peluncuran di Eropa, dengan dua perusahaan Jerman saat ini bersaing untuk menjadi pihak pertama yang menguji roket di Shetland.
Kepala Eksekutif SaxaVord Scott Hammond menyatakan bahwa strategi antariksa tersebut sangat krusial bagi kepastian akses Inggris ke ruang angkasa, termasuk bagi mitra-mitra ekonomi dan NATO. Ia menambahkan bahwa pemerintah Inggris telah bergabung sebagai salah satu investor mayoritas dengan menempatkan perwakilan di jajaran dewan, namun ia tetap menegaskan bahwa pelabuhan antariksa tersebut beroperasi sebagai perusahaan komersial swasta.
Tanggapan Kementerian Pertahanan Inggris
Menanggapi berbagai desakan tersebut, seorang juru bicara Kementerian Pertahanan menyatakan bahwa pihaknya menyadari sepenuhnya ancaman yang ditimbulkan oleh Rusia. Melalui Pasukan Ekspedisi Gabungan yang dipimpin oleh Inggris, pihaknya memimpin kegiatan sekutu di seluruh Kawasan Utara Tinggi (High North) guna memperkuat sisi utara NATO dan meningkatkan kapasitas dalam merespons ancaman yang muncul secara cepat.
Pemerintah Inggris juga mengalokasikan investasi untuk berbagai kapabilitas yang dibutuhkan guna menghadapi ancaman tersebut, yang mencakup dana sebesar 1,5 miliar poundsterling untuk mendukung Atlantic Bastion dalam menghadirkan Angkatan Laut Hibrida generasi berikutnya. Selain itu, tambahan dana senilai 330 juta poundsterling disiapkan guna memperkuat perlindungan terhadap infrastruktur kritis bawah laut.
Sumber: BBC News








