Paus Leo XIV mencatatkan sejarah sebagai pemimpin Gereja Katolik pertama yang menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum sela Amerika Serikat melalui surat pos. Kepastian tersebut dikonfirmasi oleh Takhta Suci Vatikan pada Jumat, menjelang pemungutan suara yang dijadwalkan berlangsung pada November.
Pemimpin Gereja Katolik berusia 71 tahun yang lahir di Chicago, Illinois, dengan nama Robert Francis Prevost tersebut mengajukan permohonan pemungutan suara via pos pada 3 Oktober, seperti dilaporkan media AS. Catatan Illinois State Board of Elections menunjukkan bahwa Robert Prevost selalu menggunakan hak suaranya dalam setiap pemilu sejak tahun 2000, kecuali pada pemilu 2020 dan 2022, termasuk berpartisipasi dalam lima pemilihan awal (primary elections).
Selain memegang paspor AS, Paus Leo XIV juga mengantongi kewarganegaraan Peru dari rekam jejaknya saat bertugas sebagai uskup di negara Amerika Selatan tersebut. Vatikan menyampaikan bahwa Paus senantiasa menggunakan hak pilihnya selama memenuhi syarat ketika bermukim di Peru.
Sikap Vatikan dan Dinamika Pemilu Sela
Juru bicara di Kota Vatikan menjelaskan bahwa Sri Paus menegaskan keyakinannya atas hak serta kewajiban setiap warga negara untuk terlibat dalam proses demokrasi. Pernyataan ini disampaikan meski Vatikan sendiri menganut sistem monarki absolut yang tidak menggelar pemilihan umum politik.
Dalam pemilu sela AS kali ini, seluruh kursi di DPR (House of Representatives) dan sekitar sepertiga kursi Senat diperebutkan. Partai Republik yang mengusung Presiden Donald Trump berupaya mempertahankan mayoritas tipis di kedua majelis dari tekanan Partai Demokrat.
Sementara itu di Illinois, para pemilih menentukan apakah akan memilih kembali Gubernur JB Pritzker untuk masa jabatan ketiga. Warga di negara bagian tersebut juga memilih pengisi kursi Senat AS yang kosong setelah pensiunnya politikus Katolik dari Partai Demokrat, Dick Durbin.
Hubungan dengan Pemerintah AS
Hingga saat ini belum diketahui kandidat yang dipilih oleh Paus Leo XIV dalam surat suaranya. Meski demikian, Paus tercatat kerap berseberangan pandangan dengan Presiden Donald Trump beserta jajaran pemerintahannya sejak awal masa kepausannya sekitar satu setengah tahun lalu.
Paus Leo XIV berulang kali menyampaikan kritik terhadap kebijakan Trump mengenai konflik Iran, isu migrasi, hingga kebebasan pers. Pemimpin umat Katolik dunia itu juga menolak undangan untuk menghadiri perayaan ulang tahun ke-250 Amerika Serikat yang digelar awal tahun ini.
Kedua tokoh tersebut belum pernah bertemu secara langsung. Trump sendiri kerap melancarkan kritik pribadi kepada Paus dengan menyebutnya sosok yang lemah dan terpengaruh oleh kelompok kiri radikal.
Saat melakukan kunjungan ke Aljazair pada April lalu, Paus merespons tekanan politik tersebut secara terbuka. “I’m not afraid of the Trump administration or of speaking out loudly about the message of the Gospel, which is what the church works for,” kata Paus Leo XIV.
“I will continue to speak out strongly against war, seeking to promote peace, promoting dialogue and multilateralism among states to find solutions to problems,” tegas Paus Leo XIV mengenai komitmen diplomasinya.








