Daftar Isi
Bursa mata uang kripto terbesar di dunia, Binance, menangguhkan sementara layanan penarikan dan deposit setelah mengalami peretasan senilai lebih dari US$6,3 miliar. Sejumlah analis intelijen blockchain menduga serangan siber terbesar sepanjang sejarah mata uang kripto ini dilakukan oleh kelompok peretas yang terhubung dengan Korea Utara.
Dugaan Keterlibatan Peretas Korea Utara
Lembaga intelijen blockchain asal Amerika Serikat, TRM, menyatakan dengan tingkat keyakinan tinggi bahwa serangan tersebut diluncurkan oleh TraderTraitor, unit peretas elite asal Korea Utara. TRM melaporkan bahwa para pelaku memindahkan dana sekitar US$6,36 miliar dari dompet Binance di 10 jaringan blockchain yang berbeda, sebagian besar dilakukan hanya dalam waktu sekitar 20 menit.
Pendiri sekaligus CEO perusahaan analisis Chainalysis, Jonathan Levin, turut menilai bahwa serangan terhadap Binance kemungkinan besar dilakukan oleh TraderTraitor. Pola serangan ini dinilai memiliki kemiripan dengan peretasan bursa kripto Bybit pada Februari 2025 yang merugi US$1,5 miliar, yang menurut FBI juga didalangi oleh kelompok tersebut. Para ahli menyebut Korea Utara memanfaatkan pencurian kripto dan aktivitas siber ilegal lainnya untuk memperoleh valuta asing guna mendanai program nuklirnya di tengah sanksi internasional.
Respon Binance dan Penanganan Dana
Pihak Binance tidak mengonfirmasi secara langsung keterlibatan Korea Utara, namun menegaskan sedang bekerja sama erat dengan penegak hukum untuk mengidentifikasi pelaku. Hingga saat ini, Binance telah melacak dan membekukan aset yang terdampak sekitar US$3 miliar (sekitar 2,7 miliar euro), sementara nasib sisa dana senilai US$3,3 miliar belum dijelaskan secara terperinci.
Hasil penyelidikan awal Binance menunjukkan bahwa peretas berhasil meretas laptop milik seorang insinyur infrastruktur perangkat lunak. Akses tersebut digunakan untuk masuk ke layanan internal dan mengajukan penarikan dana tanpa izin. Binance memastikan tidak ada bukti bahwa kunci pribadi (private key) dompet kripto mereka telah bocor.
Salah satu pendiri Binance, Yi He, menegaskan bahwa perusahaan akan menanggung seluruh kerugian akibat peretasan tersebut. Juru bicara Binance juga memastikan bahwa dana milik seluruh pengguna berada dalam kondisi aman.
Langkah Pembekuan dan Dampak Pasar
Penanganan dampak peretasan ini juga melibatkan pihak ketiga. CEO Tether, Paolo Ardoino, mengungkapkan bahwa pihaknya telah membekukan sekitar US$1,6 miliar dalam bentuk mata uang USDT. Sementara itu, CEO Circle, Jeremy Allaire, menyatakan pihaknya membekukan USDC senilai sekitar US$800 juta.
Kabar mengenai peretasan masif ini langsung menekan pasar mata uang kripto. Nilai Bitcoin tercatat merosot 3,2 persen hingga jatuh ke bawah level US$79.000 pada Kamis malam.
Mantan CEO dan pendiri Binance, Changpeng Zhao, yang mundur pada 2023 setelah mengaku bersalah atas kelalaian mencegah pencucian uang dan mendapat pengampunan dari Presiden AS Donald Trump pada 2025, turut memberikan tanggapan. Sebagai pemegang saham, Zhao menyatakan harapannya agar seluruh dana pengguna ditutup sepenuhnya oleh perusahaan.
Sumber: Deutsche Welle








