Daftar Isi
Pesan audio yang dikirimkan oleh terduga penyerang aktor India Tiger Shroff di Mumbai awal bulan ini berisi ancaman pembunuhan terhadap siapa pun di industri film yang tidak sejalan atau bekerja dengan Salman Khan. Kelompok tersebut mengklaim bertanggung jawab atas penembakan yang melukai sopir Shroff tersebut, meski pihak kepolisian belum mengonfirmasi keterlibatan geng yang dikaitkan dengan narapidana Lawrence Bishnoi.
Serangan Beruntun Terhadap Tokoh Film
Penembakan di Mumbai tersebut merupakan rangkaian terbaru dari aksi kekerasan yang menyasar pesohor industri film Bollywood. Sejak tahun 2022, orang bersenjata pernah melepaskan tembakan ke apartemen aktor Salman Khan, kediaman pembuat film Rohit Shetty di Mumbai, serta rumah keluarga aktris Disha Patani di India utara. Selain itu, aktor Ranveer Singh dilaporkan mendapat permintaan pemerasan senilai hampir USD 1,1 juta atau sekitar €980.000.
Kekerasan ini bahkan merambah hingga ke luar negeri, termasuk sebuah kafe milik komedian Kapil Sharma di Surrey, Kanada, yang menjadi sasaran penembakan sebanyak tiga kali. S. Hussain Zaidi, jurnalis kriminal dan penulis buku “Dongri to Dubai: Six Decades of the Mumbai Mafia” yang telah meliput kejahatan terorganisir selama lebih dari tiga dekade, mengatakan kepada Deutsche Welle: DW.com – Top Stories bahwa mafia selalu terpikat dengan industri perfilman seperti halnya di Hollywood.
Menurut Zaidi, para gangster masa lalu menginvestasikan uang dalam film untuk mengontrol industri dan mencuci uang, sementara produser yang menolak bekerja sama menghadapi risiko fatal seperti pembunuhan bos musik Gulshan Kumar pada tahun 1997 atau penembakan terhadap pembuat film Rakesh Roshan pada tahun 2000. Mantan Komisaris Polisi Mumbai, D. Sivanandhan, menyebutkan bahwa sebanyak 101 pengusaha tewas ditembak pada tahun 1998 akibat pemerasan, sebelum akhirnya undang-undang kejahatan terorganisir tahun 1999 dan tindakan tegas aparat berhasil mematahkan cengkeraman geng pada awal tahun 2000-an.
Jaringan Kejahatan dari Balik Penjara
Dalang di balik gelombang serangan terbaru ini diidentifikasi sebagai Lawrence Bishnoi, seorang pria berusia 33 tahun asal Punjab yang terjerumus ke dunia kriminal sejak aktif dalam politik mahasiswa. Jurnalis Jupinderjit Singh, penulis buku “Gangs of Punjab”, menjelaskan kepada Deutsche Welle: DW.com – Top Stories bahwa Bishnoi membangun sindikat lintas negara bagian dan tetap mengarahkan operasi dari balik jeruji besi menggunakan ponsel selundupan serta aplikasi pesan. Saat ini, Bishnoi ditahan di sebuah penjara di Gujarat.
Jaringan kelompok ini bahkan telah menyeberkat perbatasan negara, di mana pada September 2025 Kanada menetapkan geng Bishnoi sebagai entitas teroris. Bulan lalu, FBI memasukkan Satinderjeet Singh alias Goldy Brar ke dalam daftar sepuluh buronan paling dicari dengan tawaran imbalan hingga USD 1 juta, di mana jaksa Amerika Serikat mendiskripsikannya sebagai pemimpin kelompok Bishnoi di Amerika Utara.
Jupinderjit Singh menambahkan bahwa para penembak rekrutan Bishnoi kebanyakan berasal dari kalangan miskin yang terpikat secara online dengan iming-iming uang, perlindungan, dan senjata. Alasan penargetan bintang film sendiri dipicu dendam pribadi Bishnoi atas kematian antelop blackbuck yang disakralkan komunitasnya, di mana Salman Khan sempat dituduh membunuhnya pada tahun 1998.
Pemanfaatan Bollywood sebagai Mesin Uang
Singh memandang perseteruan tersebut sebagai upaya kelompok kriminal untuk mencari rasa hormat dan bertindak sebagai penjaga moral, di samping mengincar kekayaan industri film di tengah kekosongan kekuasaan pasca-bergesernya geng lama pimpinan Dawood Ibrahim. S. Sivanandhan menambahkan bahwa kelompok Bishnoi memperlakukan Bollywood sebagai ATM untuk mengambil uang dengan mudah karena industri tersebut kaya raya dan memiliki titik lemah.
Di sisi lain, S. Hussain Zaidi menilai serangan-serangan tersebut terutama bertujuan untuk mencari publisitas dan mendulang berita utama, kendati logika di baliknya dianggap tidak masuk akal. Seorang profesional keamanan yang melindungi sejumlah bintang Bollywood menegaskan bahwa inti dari tindakan pemerasan adalah menciptakan rasa takut.
Para ahli berbeda pendapat mengenai apakah situasi saat ini dapat disamakan dengan gelombang kejahatan pada tahun 1990-an. Zaidi menyatakan bahwa anggapan kebangkitan total merupakan sebuah bentuk berlebihan karena geng lain tidak aktif di Mumbai dan pembayaran digital telah menyulitkan pencucian uang tunai, sementara Sivanandhan berargumen bahwa penembakan dan klaim cepat di media sosial tetap bertujuan memeras dana dalam jumlah besar dari Bollywood.
Kekhawatiran di kalangan pekerja film tetap tinggi karena mengancam mata pencaharian ratusan ribu orang di industri tersebut. Presiden All Indian Cine Workers Association (AICWA), Suresh Shyamlal Gupta, telah mengirimkan surat kepada Menteri Dalam Negeri Amit Shah untuk menegaskan bahwa Mumbai dan Bollywood tidak akan dibiarkan kembali bekerja dalam bayang-bayang ketakutan dunia hitam.








