luar negeri

Apakah Amerika Serikat Benar-Benar Sangat Terpolarisasi?

Apakah Amerika Serikat Benar-Benar Sangat Terpolarisasi?

Kondisi politik di Amerika Serikat sering kali digambarkan sangat terpolarisasi, namun riset menunjukkan masalah tersebut tidak separah yang diperkirakan publik. Survei menemukan adanya kelompok mayoritas di tengah yang memiliki pandangan melintasi batas-batas partai.

Kesenjangan Persepsi Politik

Shanna Berry dan Alma Ong adalah dua sahabat yang tinggal di Houston dan Edgewater, Maryland, yang sepakat untuk tidak membahas politik demi menjaga pertemanan mereka. Berry adalah seorang pensiunan penata rambut dan veteran Angkatan Udara yang mendukung Donald Trump, sementara Ong adalah penganut Buddha asal London yang tidak menyukai presiden tersebut. Ketika ditanya mengenai penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat, keduanya ternyata memiliki pandangan yang sama.

Berry berpendapat bahwa akhir rezim tersebut diperlukan meskipun ia meragukan aspek legalitasnya dan motif akses terhadap minyak. Mendengar jawaban tersebut, Ong merasa terkejut dan menyatakan setuju dengan seluruh perkataan sahabatnya itu. Menurut Kristin Laurin, profesor psikologi di University of British Columbia, interaksi tersebut mencerminkan literatur mengenai polarisasi politik.

Laurin menjelaskan kepada NPR bahwa keengganan orang-orang untuk membicarakan politik demi menghindari konflik justru membuat mereka melebih-lebihkan perbedaan politik di antara mereka. Para politisi dan elit politik kerap menggambarkan lawan mereka sebagai pihak yang ekstrem demi menakuti dan memotivasi para pemilih. Di sisi lain, media sosial memperkuat kemarahan politik demi mendongkrak keterlibatan publik, sehingga polarisasi yang dirasakan jauh melampaui kondisi aslinya.

Nilai Bersama dan Mayoritas Moderat

Peneliti juga mendapati bahwa terlepas dari perbedaan politik yang sah, banyak warga yang membagikan nilai-nilai serupa. Sebagai contoh, ketika mantan Direktur FBI James Comey didakwa akibat mengunggah foto kerang di pantai yang dianggap Departemen Kehakiman sebagai ancaman pembunuhan terhadap presiden, kecaman datang tidak hanya dari kalangan Demokrat tetapi juga banyak konservatif. Di sebuah restoran tepi sungai dekat Teluk Chesapeake, Maryland, warga dari pendukung Republik maupun Demokrat membela Comey serta kebebasan berpendapat.

Stan Fletcher, seorang pengusaha restoran yang memilih Trump dalam tiga pemilihan, berpandangan bahwa kelompok kiri dan kanan yang ekstrem bukanlah cerminan mayoritas. Fletcher meyakini bahwa sebagian besar warga Amerika Serikat berada dalam kurva lonceng sebagai golongan moderat, sementara suara yang terdengar ribut hanyalah kelompok-kelompok ekstrem di kiri dan kanan.

Lembaga non-partisan Pew Research Center memperkuat pandangan tersebut dengan mengklasifikasikan warga Amerika ke dalam sembilan kelompok berbeda berdasarkan nilai dan sikap. Salah satunya adalah kelompok “Pragmatic and Polite Right” yang mengutamakan kesopanan berpolitik, bersikap konservatif dalam isu ekonomi, serta lebih moderat terhadap isu ras dan imigrasi.

Jocelyn Kiley selaku pemimpin riset politik di Pew menyatakan bahwa di balik label partai Republik dan Demokrat terdapat banyak variasi dan tumpang tindih. Pew memperkirakan kelompok masyarakat di tengah yang berantakan atau *messy middle* mencakup sekitar 60 persen dari elektorat, sementara kelompok yang paling ekstrem di sisi kanan hanya mencakup 21 persen populasi. Kiley menyimpulkan bahwa meskipun negara tersebut sangat terpolarisasi, terdapat banyak nuansa dan kesepakatan di balik perbedaan yang ada.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *