Daftar Isi
Bursa kripto populer Binance mengalami peretasan pekan ini dengan kerugian mencapai US$6,3 miliar atau setara dengan lebih dari Rp97 triliun. Perusahaan mengonfirmasi pada hari Kamis (15/10) bahwa para penyerang berhasil masuk ke dalam peladen mereka dan analis menyebut insiden ini sebagai salah satu pencurian terbesar dalam sejarah mata uang digital.
Kronologi dan Penanganan Kerugian
Binance menyatakan bahwa para peretas kemungkinan besar menggunakan laptop seorang karyawan untuk menembus sistem peladen mereka. Perusahaan berjanji akan menanggung seluruh kerugian bagi para trader yang terdampak dengan menggunakan cadangan dana aman yang mereka miliki. Seperti dilaporkan Reuters, pihak Binance sedang bekerja sama dengan FBI dan US Secret Service untuk melakukan investigasi dan untuk sementara waktu menghentikan seluruh penarikan dana.
Binance menjelaskan kepada CNET bahwa dari total US$6,34 miliar yang komit ditanggung untuk mengganti kerugian trader, sebanyak US$5 miliar di antaranya dipegang dalam bentuk aset token yang sama, sementara sisanya direncanakan dibeli melalui jalur pasar lain. Perwakilan perusahaan menyatakan bahwa langkah ini diambil untuk menyamakan format aset token yang tersisa serta mengatasi kekurangan aset. Proses pengembalian dana tersebut membutuhkan waktu lebih lama karena beberapa token memiliki likuiditas rendah serta penyelesaian over-the-counter yang memerlukan waktu.
Dampak Pasar dan Penyelidikan Pelaku
Harga mata uang kripto secara keseluruhan mengalami penurunan setelah tersiar kabar mengenai pembobolan pada Binance. Pasar kripto tidak memiliki regulasi seperti bursa saham atau bank konvensional, selalu beroperasi sepanjang waktu, dan tidak dilindungi oleh Federal Deposit Insurance Corporation sebagaimana simpanan bank pada umumnya. Di tengah meningkatnya ancaman keamanan siber yang didukung oleh kecerdasan buatan, platform perdagangan kripto lainnya yaitu Polymarket juga sempat menghentikan perdagangan pada Kamis pagi akibat masalah vendor pihak ketiga.
Penyelidikan Dugaan Kelompok Peretas
Peretasan Binance ini dinilai sebagai insiden pembobolan terbesar sepanjang sejarah oleh firma riset blockchain TRM. Analisis blockchain dari TRM serta Chainalysis mengaitkan serangan tersebut dengan sebuah kelompok asal Korea Utara bernama TraderTraitor, meskipun pihak Binance dan aparat penegak hukum belum memberikan konfirmasi resmi mengenai hal itu. FBI menyampaikan kepada CNET bahwa lembaga tersebut mengetahui insiden ini dan terus berkoordinasi dengan mitra publik serta swasta guna memahami cakupan aktivitas, mengevaluasi potensi dampak, serta mengoordinasikan langkah-langkah investigasi yang diperlukan.
Sumber: News – CNET








