Sport

Timnas Wanita Nigeria Gagal Lolos ke Piala Dunia 2027

Timnas Wanita Nigeria Gagal Lolos ke Piala Dunia 2027
Daftar Isi
  1. Kekecewaan Mendalam dan Masalah Persiapan
  2. Peta Kekuatan Afrika yang Berubah
  3. Krisisfinansial dan Skandal Pengurus

Tim nasional sepak bola wanita Nigeria, Super Falcons, mencatatkan sejarah kelam setelah dipastikan absen pada ajang Piala Dunia Wanita 2027. Kekalahan 1-2 dari Afrika Selatan dalam laga playoff di Casablanca pada Agustus lalu mengakhiri rekor selalu lolos milik tim paling sukses di benua Afrika tersebut.

Hasil buruk ini menjadi pukulan telak bagi pengoleksi 10 gelar juara Piala Negara-Negara Afrika Wanita (Wafcon) tersebut. Langkah Nigeria terlempar ke babak playoff setelah sebelumnya disingkirkan oleh Kamerun pada babak perempat final Wafcon, sementara hanya empat tim semifinalis yang berhak mendapatkan tiket otomatis ke Piala Dunia.

Kekecewaan Mendalam dan Masalah Persiapan

Jurnalis dan akademisi Dr Victor Ademola menyaksikan langsung suasana duka di skuad Nigeria seusai laga kekalahan di Maroko. “Malam itu sangat berat,” kata Ademola kepada The Guardian. Ia menceritakan bahwa sejumlah pemain menangis saat melangkah menuju bus tim, sementara yang lainnya memilih menyendiri sambil menatap ponsel mereka dengan raut wajah sedih.

Ademola menambahkan bahwa para pemain menyadari betul sejarah besar Super Falcons dan memahami bahwa hasil ini bukan sekadar kekalahan biasa. Menurutnya, ada rasa kekecewaan, ketidakpercayaan, dan patah hati yang sangat berat di dalam tim.

Kegagalan ini juga membuat Nigeria kehilangan potensi dana pembinaan yang signifikan dari FIFA. Presiden FIFA Gianni Infantino sebelumnya menargetkan penyamaan besaran hadiah uang antara turnamen pria dan wanita pada 2027, di mana nilai hadiah Piala Dunia pria mencapai 727 juta dolar AS.

Jurnalis sepak bola wanita Afrika, Janine Anthony, menilai bahwa keterlibatan di Piala Dunia sangat krusial bagi sepak bola wanita dari sisi nilai komersial. Kepada The Guardian, Anthony menyebut bahwa Super Falcons selama ini diperlakukan seperti penanganan ala kadarnya dalam hal manajemen, kompetisi domestik, hingga persiapan tim.

Anthony menyoroti minimnya laga uji coba berkualitas jelang turnamen. Nigeria hanya melakoni dua pertandingan persahabatan melawan Senegal sebelum Wafcon, berbeda jauh dengan persiapan edisi 2025 ketika mereka menjajal kekuatan Prancis, Kamerun, dan Portugal. Kondisi kurangnya persiapan ini membuat pelatih saat itu, Justine Madugu, terus-menerus merombak susunan pemain utama sepanjang turnamen karena lemahnya kohesivitas tim.

Peta Kekuatan Afrika yang Berubah

Peta kekuatan sepak bola wanita di Afrika saat ini mengalami pergeseran besar. Dari empat wakil Afrika yang tampil pada Piala Dunia 2023, hanya Maroko yang sudah memastikan diri lolos ke turnamen mendatang. Afrika Selatan masih harus berjuang melalui playoff antarbenua, sedangkan Nigeria dan Zambia dipastikan tersingkir.

Malawi dan Kamerun mencuri perhatian pada turnamen Wafcon lalu. Malawi berhasil mengamankan tiket ke Piala Dunia untuk pertama kalinya berkat penampilan impresif Chawinga bersaudara, Tabitha dan Temwa. Sementara itu, Kamerun keluar sebagai juara turnamen setelah Confederation of African Football (CAF) memperluas kuota peserta dari 12 menjadi 16 tim.

Krisisfinansial dan Skandal Pengurus

Kegagalan Super Falcons menambah panjang tren negatif sepak bola Nigeria. Tim nasional pria senior sebelumnya gagal melaju ke dua edisi Piala Dunia secara beruntun, sedangkan tim U-17 pria absen dari Piala Dunia sejak 2019. Sinyal positif sempat ditunjukkan tim U-20 wanita yang menundukkan Inggris 3-0 di Piala Dunia September lalu, meski langkah mereka langsung terhenti usai kalah 0-1 dari Kolombia.

Masalah internal dan keuangan telah lama membelenggu sepak bola Nigeria. Para pemain dan staf pelatih Super Falcons berulang kali melancarkan aksi mogok latihan untuk memprotes bonus dan tunjangan yang belum dibayarkan oleh Federasi Sepak Bola Nigeria (NFF), seperti yang terjadi pada Wafcon edisi 2004, 2016, 2022, serta Piala Dunia 2019.

Saat ini NFF sedang berada dalam penyelidikan Departemen Layanan Negara Nigeria atas dugaan penyalahgunaan dana pemerintah sebesar 17 miliar naira (sekitar Rp340 miliar) yang dikucurkan pada 2024 untuk melunasi hak-hak pemain. NFF tidak memberikan tanggapan saat dikonfirmasi oleh The Guardian terkait dugaan tersebut.

Presiden Nigeria Bola Tinubu menegaskan kekecewaannya atas kondisi sepak bola di negaranya. “Sepak bola Nigeria harus mengalami perubahan mendasar untuk memperkuat tata kelola, administrasi, keterwakilan pemangku kepentingan, pembinaan pemain, kompetisi domestik, dan akuntabilitas,” tegas Tinubu pada Agustus lalu.

Pernyataan Presiden Tinubu tersebut disusul dengan pengunduran diri Presiden NFF Ibrahim Gusau bersama beberapa anggota dewan. Agenda pemilihan pengurus NFF yang semula dijadwalkan pada September akhirnya ditunda dan akan dilaksanakan setelah proses reformasi yang berkonsultasi dengan FIFA dan CAF selesai dijalankan.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *