Politik

Kanselir Jerman Friedrich Merz Berharap Korea Bisa Bersatu

Kanselir Jerman Friedrich Merz Berharap Korea Bisa Bersatu
Daftar Isi
  1. Harapan Reunifikasi di Perbatasan Korea
  2. Kunjungan Presiden Steinmeier di Tiongkok
  3. Seruan Tata Kelola Perdagangan Global di Seoul

Kanselir Jerman Friedrich Merz mengunjungi zona demiliterisasi yang memisahkan Korea Utara dan Korea Selatan. Dalam lawatannya, Merz menyinggung pengalaman reunifikasi Jerman dan menyatakan harapannya agar Korea dapat menyusul menyatukan kembali negaranya.

Harapan Reunifikasi di Perbatasan Korea

Merz mendatangi desa gencatan senjata Panmunjom dan sempat berdiri sebentar di sisi Korea Utara di dalam barak. Korea Utara dan Korea Selatan telah terpecah sejak berakhirnya permusuhan dalam Perang Korea pada tahun 1953 dengan garis batas yang membelah semenanjung tersebut.

Dalam keterangannya kepada para wartawan, Merz mengenang reunifikasi Jerman yang terjadi 36 tahun lalu. “Mari kita berharap Korea juga suatu hari mendapat kesempatan untuk mendapatkan kembali persatuan negaranya,” ujar Merz.

Ia menambahkan bahwa perpecahan mendatangkan penderitaan yang besar bagi sebuah negara dan keinginan untuk bersatu di bagian Semenanjung Korea tersebut sangatlah kuat. Merz menyebut dirinya sempat ditanyai mengenai pengalaman reunifikasi Jerman selama kunjungannya di Seoul.

Di sisi lain, Korea Utara dalam beberapa tahun terakhir justru menjauhkan diri dari jalur diplomasi dengan Selatan. Pyongyang secara resmi telah menghapus kalimat yang menyerukan reunifikasi dari konstitusinya dan mengubah status Korea Selatan menjadi negara yang bermusuhan.

Kunjungan Presiden Steinmeier di Tiongkok

Sementara itu, Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier berada di Tiongkok untuk melakukan kunjungan kenegaraan dalam rangkaian lawatannya di Asia. Steinmeier bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing untuk membahas hubungan bilateral dan ketegangan perdagangan.

Presiden Xi Jinping menyatakan kesiapan negaranya untuk membuka babak baru dalam kemitraan strategis komprehensif dengan Jerman. Menurut Xi, sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua dan ketiga di dunia, Tiongkok dan Jerman memikul tanggung jawab penting untuk kestabilan pertumbuhan ekonomi global serta hubungan antara Tiongkok dan Eropa.

Dalam pertemuan tersebut, Steinmeier menyoroti defisit perdagangan Jerman yang kian melebar serta masalah subsidi ekspor Tiongkok ke Eropa. Jerman berupaya mendorong penguatan kekuatan pertahanan perdagangan Uni Eropa guna melindungi basis industrinya dari banjir produk manufaktur Tiongkok.

Kendati demikian, seruan politik Steinmeier agar Beijing mengambil peran lebih besar dalam tatanan internasional dan merespons konflik global termasuk perang di Ukraina tidak mendapatkan tanggapan resmi dari pihak Tiongkok.

Seruan Tata Kelola Perdagangan Global di Seoul

Berbicara di hadapan Konferensi Bisnis Jerman-Asia Pasifik di Seoul pada hari Jumat, Kanselir Merz menegaskan kembali komitmen Jerman dan Eropa dalam membina tatanan ekonomi berbasis aturan bersama negara-negara Asia.

Merz menyoroti dinamika persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok serta penggunaan tarif dan strategi pelonggaran teknologi yang mengubah aturan ekonomi global. Ia memperingatkan agar rantai pasok tidak dijadikan sebagai alat politik.

Dalam lawatannya sepanjang pekan ini di Singapura, Jepang, dan Korea Selatan, Merz mendorong kemitraan perdagangan bebas serta kerja sama multilateral yang lebih erat guna menghindari proteksionisme.

Di sektor domestik, data dari Kantor Statistik Federal Jerman menunjukkan tingkat inflasi tahunan melandasi ke angka 2,8 persen pada bulan Oktober berkat kebijakan pengurangan pajak bahan bakar minyak yang diberlakukan pemerintah.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *