Transportasi

Ancaman Kecepatan Kapal Feri pada Paus di Mediterania

Ancaman Kecepatan Kapal Feri pada Paus di Mediterania
Daftar Isi
  1. Ancaman Tabrakan dan Rekomendasi Kecepatan Internasional
  2. Pelanggaran Batas Kecepatan dan Kendala Operasional
  3. Respons Perusahaan dan Dorongan Aturan Wajib

Investigasi oleh The Guardian menemukan bahwa perusahaan pelayaran terkemuka masih melaju di atas batas kecepatan yang disarankan di habitat utama paus di Mediterania. Perilaku ini tetap terjadi meskipun rekomendasi untuk memperlambat laju kapal telah diberlakukan guna melindungi mamalia laut tersebut dari risiko tabrakan fatal.

Ancaman Tabrakan dan Rekomendasi Kecepatan Internasional

Ahli biologi kelautan Alice Barbarioli bersama tim ekspedisi warga dari Tethys Research Institute mendapati cedera pada sirip ekor seekor paus sperma di suaka Pelagos, kawasan konservasi di barat laut Mediterania. Menurut Barbarioli, tanda luka presisi tersebut kemungkinan besar diakibatkan oleh benturan dengan kapal.

Tabrakan dengan kapal telah lama diidentifikasi sebagai penyebab utama kematian paus sperma dan paus sirip yang terancam punah di Mediterania. Investigasi The Guardian yang memanfaatkan data dari firma intelijen maritim Veson Nautical mendapati bahwa kapal penumpang dan kargo besar yang dioperasikan oleh Grimaldi Group, Corsica Ferries, Baleària, dan Moby Lines sering melintasi habitat yang dilindungi pada kecepatan 15 knot atau lebih. Kecepatan tersebut hampir selalu berakibat fatal bagi cetacea jika terjadi tabrakan, sementara benturan umumnya tidak mematikan apabila kapal berlayar di bawah 10 knot.

Perairan antara Valencia dan Genoa, termasuk suaka Pelagos, merupakan habitat penting yang menampung sekitar dua pertiga paus sirip dan lebih dari seperlima paus sperma di Mediterania. Pada Juli 2023, Organisasi Maritim Internasional (IMO) menetapkan kawasan laut sensitif khusus (PSSA) di Mediterania barat laut dan mengeluarkan rekomendasi kecepatan sukarela (VSR) agar kapal berbobot 300 ton kotor ke atas berlayar pada kecepatan 10 hingga 13 knot untuk menekan risiko tabrakan fatal.

Pelanggaran Batas Kecepatan dan Kendala Operasional

Berdasarkan data tambahan dari Global Fishing Watch, kapal-kapal beridentifikasi IMO menghabiskan waktu lebih dari 280.000 jam dengan kecepatan 15 knot atau lebih di kawasan PSSA sepanjang tahun 2025, termasuk lebih dari 6.000 jam di atas 25 knot. Data tersebut menunjukkan bahwa rekomendasi sukarela sebagian besar tidak efektif.

Sebanyak tujuh kapal, yang terdiri atas empat feri cepat Baleària dan tiga kapal pesiar Grimaldi, bertanggung jawab atas 70 persen jam pelayaran di atas 25 knot pada tahun 2025. Sejumlah nakhoda yang berlayar di wilayah tersebut menyatakan bahwa perusahaan mereka tidak menerapkan langkah-langkah untuk mendorong pelayaran lambat pascakeluarnya rekomendasi IMO.

Seorang nakhoda Grimentaldi menyatakan kepada The Guardian bahwa tidak ada pihak yang akan mengurangi kecepatan selama aturan tersebut bersifat sukarela karena hal itu akan merombak seluruh sistem komersial. Feri di kawasan tersebut beroperasi pada kecepatan 25 knot, terutama yang mengangkut wisatawan, karena mereka memiliki jadwal yang harus diikuti.

Thomas Folegot, CEO perusahaan teknologi kelautan Quiet-Oceans, menjelaskan bahwa pemotongan kecepatan cukup menantang bagi kapal feri karena berdampak buruk bagi kelangsungan bisnis mereka. Analisis dari Quiet-Oceans dan Oceancare mencatat bahwa 80 persen perjalanan kapal niaga di PSSA pada tahun 2023 dilakukan pada kecepatan di atas 10 knot.

Di sisi lain, terdapat penurunan waktu tahunan berlayar di atas ambang batas 15 knot sebesar 11 persen pada 2025 jika dibandingkan dengan 2022, sementara durasi di atas 25 knot turun sekitar sepertiga. Olivia Watkins selaku direktur asosiasi di Veson Nautical menilai penurunan tersebut kemungkinan besar didorong oleh faktor-faktor seperti perubahan rute pelayaran, dan rekomendasi PSSA tampaknya bukan penyebab utama penurunan tahun ke tahun dalam hasil data.

Respons Perusahaan dan Dorongan Aturan Wajib

Komisi Penangkapan Ikan Internasional (IWC) mencatat enam insiden di PSSA sejak Juli 2023, yang mencakup lima nyaris tabrakan dan satu benturan, kendati sebagian besar insiden diyakini tidak tercatat. Simone Panigada selaku presiden Tethys Research Institute berpandangan bahwa sudah saatnya untuk beralih secara progresif dari aturan sukarela ke aturan wajib guna mengurangi risiko tabrakan.

Perwakilan World Shipping Council, Wei-Jun Mun, menyampaikan bahwa industri berkomitmen terhadap langkah perlindungan PSSA, kendati navigasi yang lebih lambat melibatkan pertimbangan komersial dan operasional, termasuk perlunya menambah kapal untuk keandalan jadwal.

Perwakilan Corsica Ferries menyatakan bahwa perusahaan mendukung penelitian megafauna laut dan mitigasi tabrakan kapal melalui pemantauan berkelanjutan, pelatihan awak, serta pengembangan alat peringatan paus, seraya menginstruksikan nakhoda untuk berhati-hati dan menurunkan kecepatan ke kisaran 10 hingga 13 knot di PSSA. Namun, perusahaan juga mencatat bahwa nakhoda melaporkan penurunan kapasitas dalam menghindari cetacea yang muncul secara tiba-tiba saat bernavigasi pada kecepatan rendah.

Sementara itu, perwakilan Baleària menyatakan komitmen terhadap konservasi keanekaragaman hayati laut dan mitigasi risiko tabrakan melalui pelatihan awak serta pemantauan waktu nyata, dengan catatan bahwa tidak ada feri cepat mereka yang mencatat tabrakan dengan cetacea.

Terakhir, penyelidikan dan pemantauan terus dilakukan oleh berbagai lembaga peneliti dan instansi terkait untuk menilai efektivitas pelindungan mamalia laut di perairan tersebut.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *