Daftar Isi
Raksasa mata uang kripto Binance mengonfirmasi pada Kamis bahwa aset digital senilai 6,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp103 triliun terdampak oleh apa yang diyakini sebagai peretasan kripto terbesar sepanjang sejarah. Pertukaran kripto terbesar di dunia tersebut menyatakan bahwa sekitar separuh dari aset yang terdampak telah berhasil dibekukan, namun banyak dana lainnya masih berada di tangan pelaku.
Kronologi dan Investigasi Peretasan
Co-CEO Binance, Richard Teng, menjelaskan bahwa investigasi awal perusahaan menunjukkan peretasan bermula dari laptop seorang insinyur yang disusupi. Akses tersebut memberikan penyerang jalan masuk ke sebuah kontainer layanan untuk mengajukan transaksi penarikan dana tanpa izin.
Teng menegaskan bahwa pelaku tidak sekadar menggunakan izin satu insinyur dan tindakan tersebut bukan aksi sekali klik, melainkan melibatkan proses serangan yang lebih rumit. Ia menambahkan bahwa sejauh ini penyelidikan belum mengaitkan tanggung jawab kepada individu tertentu dan tidak ditemukan bukti adanya kebocoran kunci privat dompet.
Dalam perkembangan lanjutan, pihak perusahaan melalui platform X menyatakan bahwa investigasi lanjutan telah menemukan titik pembobolan tambahan. Binance berjanji akan menanggung seluruh kerugian yang timbul akibat insiden ini.
Dugaan Keterlibatan Peretas Korea Utara
Dua perusahaan analitik mengaitkan insiden yang melampaui rekor peretasan senilai 1,5 miliar dolar AS pada bursa Bybit di tahun 2025 itu dengan unit peretasan asal Korea Utara bernama TraderTraitor. Perusahaan keamanan siber Check Point menyebut unit tersebut dikenal di industri sebagai Lazarus Group yang juga disalahkan atas peretasan Bybit pada tahun 2025.
Kepala Keamanan Informasi Check Point, Jayant Dave, mengatakan bahwa kerugian yang diperkirakan oleh Binance menjadikan peristiwa ini sebagai pencurian kripto terbesar yang pernah tercatat. Dave menilai serangan tersebut mirip dengan peretasan pada platform pertukaran kripto Bitget pada September lalu yang mengakibatkan kerugian sebesar 388 juta dolar AS.
Perusahaan investigasi berbasis kecerdasan buatan TRM Labs dalam sebuah laporan menyebutkan beberapa elemen serangan Binance menyerupai insiden-insiden sebelumnya yang terhubung dengan Korea Utara, termasuk peretasan Bybit. Kepala Kebijakan Global TRM Labs, Ari Redbord, menyatakan kepada BBC bahwa peretasan Binance adalah momen penting yang belum pernah disaksikan industri sebelumnya.
Perusahaan analitik kripto Chainalysis juga menyatakan memiliki keyakinan tinggi bahwa kelompok asal Korea Utara tersebut terhubung dengan peretasan ini. Kepala Riset Chainalysis, Eric Jardine, mengimbau setiap bursa untuk tetap waspada karena platform-platform tersebut merupakan target yang menarik bagi peretas akibat tingginya nilai aset.
Menanggapi dugaan tersebut, Binance menyatakan sedang bekerja sama secara erat dengan mitra penegak hukum untuk mengonfirmasi identitas para pelaku kejahatan dan menyeret mereka ke muka hukum. Agensi keamanan Barat sebelumnya menyebutkan bahwa dana hasil curian digunakan untuk membiayai program pengembangan senjata nuklir dan rudal Korea Utara, sementara rezim tersebut pernah membantah keterlibatan dalam peretasan.
Respon Pasar dan Langkah Pengamanan
Co-chief executive Binance, Yi He, menyampaikan terima kasih melalui serangkaian unggahan kepada berbagai penerbit mata uang kripto yang telah membekukan aset terkait. Ia menegaskan bahwa keselamatan menjadi prioritas utama dengan menonaktifkan sementara layanan penarikan hingga lingkungan sistem dipastikan aman.
Sejumlah platform kripto besar lainnya turut mengambil tindakan cepat. Tether dan Circle menyatakan telah membekukan aset senilai sekitar 2,4 miliar dolar AS sebagai respons terhadap potensi peretasan Binance. Perusahaan kripto World Liberty Financial yang terhubung dengan Presiden AS Donald Trump dan keluarganya juga mengumumkan kerja sama dengan para mitra untuk membekukan dana curian tersebut, sementara bursa Coinbase menyatakan tidak terdampak dan terus memantau situasi.
Peristiwa keamanan ini berdampak langsung pada pasar aset digital di mana harga Bitcoin merosot lebih dari 4 persen menyusul peringatan tersebut, sementara harga mata uang kripto utama lainnya seperti Ethereum dan Solana turut mengalami penurunan tajam. Insiden ini secara khusus memengaruhi platform Binance.com, sementara platform yang jauh lebih kecil yaitu Binance.US menegaskan bahwa layanan perdagangan mereka bagi warga Amerika Serikat tidak terdampak oleh masalah ini.
Sumber: BBC News








