Teknologi

Burung Laut Bisa Mengalami Jet Lag Bikin Jalur Terbang Melenceng

Burung Laut Bisa Mengalami Jet Lag Bikin Jalur Terbang Melenceng
Daftar Isi
  1. Pengaruh Jam Internal dan Kompas Matahari
  2. Hasil Analisis Pelacakan GPS Camar Manx
  3. Dampak dan Potensi Penelitian Lanjutan

Sebuah studi terbaru yang dilaporkan CNN Indonesia menunjukkan bahwa burung laut yang melakukan migrasi jarak jauh melintasi Atlantik dapat mengalami jet lag atau ketidaksesuaian antara jam biologis internal mereka dan waktu setempat. Kondisi ini turut memengaruhi navigasi dan membuat arah terbang burung-burung tersebut melenceng dari jalur yang seharusnya.

Pengaruh Jam Internal dan Kompas Matahari

Banyak hewan memanfaatkan Matahari untuk mencari arah jalan mereka, termasuk burung. Karena Matahari bergerak melintasi langit sepanjang hari, burung-burung membutuhkan jam internal guna menavigasi arah dan menafsirkan posisinya secara tepat.

Biasanya, burung-burung menjadikan waktu Matahari terbit sebagai isyarat untuk mengatur ulang jam internal serta menentukan arah terbang. Namun, ketika mereka terbang secara cepat ke arah timur atau barat pada siang hari, jam internal mereka berpotensi tidak sinkron dengan waktu Matahari setempat.

Situasi jet lag tersebut dapat membuat burung-burung salah memperkirakan posisi Matahari sehingga terbang sedikit melenceng dari rute yang semestinya.

Hasil Analisis Pelacakan GPS Camar Manx

Berdasarkan situs Department of Biology Oxford, tim peneliti menganalisis data pelacakan GPS selama 20 tahun dari 1.045 burung camar Manx yang mencakup sekitar 3.688 perjalanan mencari makan.

Burung camar Manx atau Puffinus puffinus berkembang biak di pulau-pulau yang terletak di lepas pantai barat Inggris dan Irlandia. Mereka lazimnya melakukan perjalanan ratusan kilometer ke laut untuk mencari makanan, dengan jarak tempuh mencapai 1.000 kilometer ke arah barat.

Ketika kembali ke sarang, burung-burung tersebut melakukan perjalanan balik ke arah timur melintasi garis bujur menuju zona yang Mataharinya terbit lebih awal. Akibatnya, mereka dapat mengalami jet lag hingga satu jam, serupa dengan apa yang dialami manusia saat terbang ke wilayah dengan zona waktu lebih awal.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Science pada Kamis (29/10) tersebut menemukan bahwa arah terbang burung-burung itu menunjukkan penyimpangan sistematis yang selaras dengan efek pergeseran orientasi waktu pada kompas Matahari mereka.

Tim peneliti melakukan perbandingan data pergerakan arah burung dengan pergerakan Matahari menggunakan model statistik. Hasilnya mengungkapkan bahwa penyimpangan tersebut bersumber dari kompas Matahari, bukan karena dinamika magnet Bumi seperti dugaan dari hipotesis sebelumnya.

Kesalahan navigasi ini tetap terjadi kendati burung-burung tersebut terbang menyusuri garis pantai yang terlihat, di mana penanda lokasi nyata seharusnya bisa memandu mereka. Hal ini membuktikan bahwa burung-burung tersebut senantiasa mengandalkan kompas Matahari.

“Sungguh menakjubkan untuk berpikir bahwa miliaran hewan migrasi menatap matahari untuk menentukan arah, mengandalkan jam yang berdetak tanpa suara di dalam tubuh mereka, dan bahwa kesalahan pada jam tersebut dapat menyebabkan mereka menyimpang sedikit dari jalur yang seharusnya,” ujar peneliti utama Patrick Lewin.

Dampak dan Potensi Penelitian Lanjutan

Kesalahan navigasi akibat jet lag pada burung yang teramati tergolong relatif kecil, yakni sekitar 15 derajat. Burung-burung tersebut juga tampak mengenali posisi mereka serta menyesuaikan arah rute pulang secara terus-menerus sehingga jarak tambahan yang ditempuh tidak terlalu jauh.

Berdasarkan perhitungan tim peneliti, apabila seekor burung camar kembali dari jarak 1.000 kilometer dengan kesalahan kompas rata-rata 7 derajat dan terus-menerus menyesuaikan arah, ia hanya menempuh jarak tambahan sekitar 5 kilometer lebih jauh dari rute ideal.

Kendati demikian, temuan ini mengindikasikan dampak yang lebih luas bagi hewan yang melaksanakan perjalanan migrasi lebih jauh tanpa mampu menyesuaikan arah secara terus-menerus. Pada burung yang melakukan migrasi pertama, kesalahan navigasi berisiko menggeser mereka dari tujuan hingga ratusan kilometer.

Para peneliti juga menyampaikan bahwa efek jet lag ini berpotensi memunculkan dampak lain selain navigasi, seperti gangguan tidur, kelelahan, dan gejala lainnya yang biasa dialami manusia. Oleh karena itu, penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami efek serupa terhadap kesehatan, perilaku, maupun kelangsungan hidup mereka.

Di samping untuk mengetahui dampaknya pada burung, kajian mengenai cara burung camar beradaptasi dalam menyesuaikan kembali arah terbangnya diharapkan dapat membantu mengatasi masalah jet lag pada manusia.

“Mungkin burung-burung yang secara rutin melakukan perjalanan jarak jauh ini dapat membantu kita mempelajari cara mengatasi dan mengobati jet lag untuk menghindari efek negatif yang sangat buruk bagi kesehatan kita,” kata Patrick.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *