Ekonomi

Pasar Keuangan Tertekan, RI Hadapi 10 Agenda Ekonomi Pekan Ini

Pasar Keuangan Tertekan, RI Hadapi 10 Agenda Ekonomi Pekan Ini
Daftar Isi
  1. Kinerja Pasar Keuangan Indonesia
  2. Gejolak Bursa Saham Wall Street
  3. Sepuluh Sentimen Pasar Pekan Ini

Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan berat sepanjang pekan lalu dengan bursa saham dan nilai tukar rupiah yang kompak anjlok. Kondisi tersebut dipicu oleh ketidakpastian global serta aksi jual asing yang masif di tengah penantian para pelaku pasar terhadap sejumlah agenda ekonomi dan politik krusial.

Kinerja Pasar Keuangan Indonesia

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) babak belur dengan kejatuhan sebesar 7,03 persen pada pekan lalu. Pada perdagangan Jumat (30/10/2026), IHSG ditutup melemah 0,80 persen ke level 5.057,05 setelah sempat terperosok ke posisi 4.979,34. Tekanan jual asing menjadi pemicu utama dengan catatan net sell jumbo mencapai Rp3,06 triliun di tengah ketidakpastian global dan jatuhnya nilai tukar.

Sepanjang Oktober, IHSG secara keseluruhan anjlok 16,70 persen dan berada di zona merah dalam tujuh dari sepuluh bulan di 2026. Dari pasar mata uang, rupiah ditutup di level Rp18.120 per dolar AS pada akhir pekan lalu, menguat tipis 0,03 persen dibanding hari sebelumnya. Namun, dalam sepekan rupiah melemah 0,44 persen dan memperpanjang tren koreksi selama empat pekan beruntun, serta sempat mencetak rekor penutupan terlemah sepanjang masa di level Rp18.175 per dolar AS pada Rabu (28/10/2026).

Sementara itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun ditutup di posisi 7,643 persen pada Jumat, melompat dari posisi 7,46 persen pada pekan sebelumnya. Imbal hasil tersebut bahkan sempat menyentuh level 7,7 persen pada Rabu pekan lalu yang merupakan posisi tertingginya sejak pandemi Covid-19 akibat aksi jual investor.

Gejolak Bursa Saham Wall Street

Di pasar global, bursa Wall Street AS juga ambruk pada perdagangan akhir pekan lalu. Indeks Nasdaq Composite merosot 2,86 persen ke level 25.437,00, Dow Jones Industrial Average melemah 1,09 persen ke 51.770,31, dan S&P 500 turun 1,82 persen ke 7.580,07 akibat aksi ambil untung investor menjelang pemilihan sela AS.

Saham Intel anjlok hampir 29 persen setelah perusahaan merilis proyeksi kinerja yang lemah akibat perlambatan pasar PC, sementara Amazon melemah lebih dari 1 persen setelah laba kuartal III berada di bawah ekspektasi. Di tengah kejatuhan saham teknologi dan kecerdasan buatan, investor beralih ke sektor yang lebih defensif seperti Walmart dan Coca-Cola yang mencatat kenaikan.

Keith Buchanan dari Globalt mengatakan perubahan sentimen pasar mulai terlihat saat investor semakin kritis menilai kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan nyata dari investasi teknologi. “Tahun lalu adalah tentang harapan. Tahun ini, pertanyaannya adalah: pada akhirnya, bagaimana semua etrja dalam dunia nyata, seperti bagaimana membiayainya dan siapa yang mendapatkan keuntungan ekonominya,” kata Buchanan, seperti dilaporkan CNBC International.

Sepuluh Sentimen Pasar Pekan Ini

Memasuki awal November 2026, pasar keuangan dihadapkan pada sepuluh agenda dan sentimen penting dari dalam maupun luar negeri. Pertama, S&P Global merilis data PMI Manufaktur Indonesia untuk Oktober 2026 setelah sebelumnya berada di zona ekspansi pada level 52,48 di September.

Kedua, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan data inflasi Oktober 2026 dengan konsensus pasar memperkirakan IHK naik 0,24 persen secara bulanan dan 3,28 persen secara tahunan. Kepala ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan kelompok harga yang diatur pemerintah diproyeksikan mencatat deflasi didorong tarif angkutan udara, meski sejumlah bahan pangan mengalami kenaikan. “Inflasi Oktober terutama didorong oleh kenaikan harga sejumlah bahan pangan, seperti gula, minyak goreng, daging sapi, gandum, kedelai, cabai merah, dan bawang merah,” ujarnya kepada CNBC Indonesia.

Ketiga, BPS merilis data neraca perdagangan September 2026 untuk melihat kelanjutan surplus di tengah tingginya impor minyak setelah membukukan surplus US$3,55 miliar pada Agustus. Keempat, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 akan diumumkan BPS pada Kamis (5/11/2026) guna mengukur ketahanan ekonomi nasional di tengah konflik global.

Kelima, Bank Indonesia mengumumkan posisi cadangan devisa per akhir Oktober 2026 pada Jumat (6/11/2026) untuk melihat besaran dana yang digunakan dalam intervensi nilai tukar. Keenam, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari perhitungan IHSG serta mengosongkan daftar short selling pada November 2026. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan kebijakan tersebut diambil karena fluktuasi pasar saat ini tidak didukung analisis fundamental yang baik.

Ketujuh, China merilis data PMI manufaktur versi RatingDog dan NBS yang menunjukkan aktivitas manufaktur kembali masuk zona kontraksi pada level 49,3 di Oktober akibat meredanya belanja libur Golden Week serta lesunya permintaan domestik. Kedelapan, pemilu sela AS akan digelar pada Selasa (3/11/2026) untuk memperebutkan seluruh kursi DPR dan sepertiga kursi Senat yang menjadi ujian berat bagi Presiden Donald Trump.

Kesembilan, AS mengumumkan sejumlah data tenaga kerja penting termasuk laporan Job Openings and Labor Turnover Survey serta data Nonfarm Payrolls dan angka pengangguran Oktober 2026 pada Jumat (6/11/2026). Kesepuluh, rilis data aktivitas manufaktur dan sektor jasa ISM serta PMI AS melengkapi daftar agenda ekonomi yang akan dicermati investor.

Bursa Efek Indonesia dijadwalkan melaksanakan penandatanganan nota kesepahaman dengan Kementerian UMKM dan Surveyor Indonesia, dilanjutkan peluncuran Go Public for SME serta gelar wicara RISE to IPO di Jakarta Selatan.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *