luar negeri

Pasangan AS Jual Rumah Demi Kapal Pesiar, Berakhir Gagal

Pasangan AS Jual Rumah Demi Kapal Pesiar, Berakhir Gagal

Sepasang suami istri asal Amerika Serikat menjual rumah dan mobil demi tinggal di kapal pesiar untuk keliling dunia, namun harus meninggalkan kapal tersebut. Kabin senilai Rp 3,2 miliar yang mereka beli terpaksa ditinggalkan karena kapal Villa Vie Odyssey berhenti beroperasi akibat masalah keuangan.

Rencana Keliling Dunia Terhenti di Kamboja

Pasangan bernama Lynn dan Paul Montoya tersebut merupakan bagian dari sekitar 200 penumpang kapal pesiar Villa Vie Odyssey. Selain membayar harga kabin, mereka juga rutin membayar iuran bulanan sekitar USD 6.000 atau setara dengan Rp 109 juta untuk pelayaran global tersebut.

Seperti dilaporkan Reuters, rencana perjalanan itu harus kandas setelah mereka menghabiskan waktu selama 17 bulan di atas kapal. Pihak pengelola Villa Vie Residences mengumumkan penangguhan operasional dan memerintahkan seluruh penumpang untuk turun di sebuah pelabuhan di Kamboja pekan ini.

Para penumpang diwajibkan mengosongkan kabin mereka serta membawa seluruh barang pribadi beserta hewan peliharaan. Mereka harus merelakan tempat tinggal terapung yang selama ini mereka tempati.

Paul menuturkan bahwa sebelum naik ke kapal, mereka belum pernah bepergian ke luar negeri dan melihat kesempatan tersebut sebagai peluang besar untuk melihat dunia. Penghentian operasional ini membuat para penumpang cemas akan kehilangan seluruh dana yang sudah mereka setorkan.

Paul menduga pihak perusahaan sudah kehabisan dana operasional sehingga tidak mampu membeli bahan bakar minyak maupun membayar gaji para awak kapal. Manajemen Villa Vie Residences dalam pernyataan pada Selasa (27/10) menyampaikan bahwa mereka tengah berupaya merestrukturisasi modal dan mencari pendanaan baru, kendati tidak memberikan jaminan keberhasilan.

Penurunan Fasilitas dan Rencana Selanjutnya

Menurut Paul, tanda-tanda kesulitan keuangan perusahaan mulai tampak ketika konflik dengan Iran menyebabkan lonjakan harga bahan bakar, bahkan pengelola sempat meminta pinjaman dana kepada para penumpang untuk membeli BBM.

Kondisi di atas kapal semakin memburuk setibanya di Kamboja karena akses internet terputus, sementara standar kualitas makanan terus merosot dalam tiga bulan terakhir. Meskipun mengalami kerugian finansial yang besar, Lynn dan Paul tetap berniat melanjutkan perjalanan menuju Malaysia menggunakan sisa anggaran bulanan mereka.

Lynn mengungkapkan bahwa dirinya merasa lebih bersedih karena kehilangan rasa kebersamaan serta komunitas yang telah terjalin di kapal ketimbang uang yang telanjur dikeluarkan.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *