Sejumlah supermarket di Belgia, Estonia, Irlandia, Luksemburg, dan Swedia melaporkan gangguan pada sistem pendingin mereka pada Senin (13/10). Peristiwa ini diduga merupakan serangan siber serupa yang terjadi di Prancis tiga pekan lalu, di mana pihak tak dikenal dituduh telah meretas sistem pendingin untuk mencairkan es dan merusak makanan segar serta beku.
Dampak Serangan di Berbagai Negara
Di Swedia, jaringan supermarket ICA dan Coop menyatakan bahwa sejumlah toko mereka terdampak insiden tersebut. Juru bicara ICA, Helena Johansson, mengatakan kepada Deutsche Welle bahwa perusahaannya sedang menyelidiki kejadian beserta skalanya. Sementara itu, juru bicara Coop, Carlos Cancino, menyampaikan kepada kantor berita AFP bahwa lemari pendingin dan pembeku berhenti berfungsi sepenuhnya atau mengalami gangguan sebagian. Ia menyebutkan enam dari sekitar 800 gerai Coop di Swedia terdampak, meski belum menerima informasi bahwa kejadian itu merupakan serangan siber.
Jaringan supermarket asal Belanda, Ahold Delhaize, melaporkan insiden teknologi informasi pada malam hari yang mengenai sistem pendingin di beberapa toko mereka di Belgia dan Luksemburg. Di Irlandia, lembaga penyiaran publik RTE memberitakan bahwa 13 supermarket terkena dampaknya. Jaringan ritel Carrefour, Intermarche, dan Spar turut menjadi sasaran. Juru bicara Carrefour Belgia, Mich Vergauwen, menegaskan bahwa kejadian tersebut adalah serangan siber karena tidak ada alasan lain.
Kejaksaan Belgia telah membuka investigasi kriminal terkait serangan ini, seperti dilaporkan oleh kantor berita Reuters mengutip keterangan seorang juru bicara.
Respons Uni Eropa dan Celah Keamanan
Komisaris Pertanian dan Pangan Uni Eropa, Christophe Hansen, menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan upaya sengaja untuk mengganggu pasokan pangan di Eropa. Ia menambahkan bahwa meskipun ketahanan pangan saat ini tidak terancam, limbah makanan dan dampaknya terhadap dunia usaha adalah hal yang nyata. Juru bicara Komisi Eropa turut menyatakan bahwa insiden ini menunjukkan bagaimana serangan siber dapat mengganggu layanan, memengaruhi bisnis, dan berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari warga.
Gangguan ini memicu pembuangan produk-produk yang rusak dan kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap ketahanan pangan. Cabang ICA Kvantum di Sjobo, Swedia selatan, mengungkapkan bahwa suhu pada sistem pendingin mereka diubah dari jarak jauh hingga mencapai 50 derajat Celsius.
Kepala Pusat Keamanan Siber Nasional Swedia, John Billow, menyatakan kepada Reuters bahwa lemahnya keamanan teknologi operasional menjadi celah bagi peretas. Ia menyebutkan pihaknya dalam beberapa pekan terakhir telah mengidentifikasi banyak perangkat teknologi operasional di Swedia yang terekspos dan perlu segera diperbarui atau ditambal.
Sumber: Deutsche Welle








