Daftar Isi
Darryl Baker terkejut saat melihat setumpuk pakaian terbuang di dekat tempat daur ulang di luar sebuah supermarket lokal. Ibu dua anak asal London utara ini kemudian meminta izin kepada staf supermarket untuk mengambil beberapa barang tersebut setelah mendapati bingkai foto Ikea yang masih layak serta skuter anak-anak.
Menghemat Ratusan Poundsterling
Mendapat izin dari pihak supermarket, Darryl berhasil mendapatkan pakaian baru untuk anak-anaknya. Selama kurun waktu enam bulan tahun ini, jurnalis lepas berusia 39 tahun tersebut memperkirakan telah menghemat ratusan poundsterling.
Darryl menyebutkan sejumlah merek pakaian ternama yang berhasil ia selamatkan, mulai dari Ralph Lauren, Nike, hingga The North Face. Selain untuk anak-anak serta keponakannya, sebagian barang ia simpan untuk dirinya sendiri, didonasikan, atau dijual kembali seperti jaket pria Barbour seharga £30.
Darryl kini bergabung dengan para pelaku *dumpster diving*, yakni orang-orang yang mencari barang berharga di tempat sampah komersial. Motivasi mereka beragam, mulai dari menghemat biaya, memberikan barang kepada badan amal, hingga rasa prihatin atas banyaknya barang layak pakai yang dibuang begitu saja.
Aksi Berkeliling dengan Sepeda
Di Texas, Amerika Serikat, Jeff Ferrell telah menggeluti aktivitas mengais sampah selama lebih dari 50 tahun. Pria berusia 72 tahun yang tinggal di Fort Worth ini mengaku masih rutin menyelami tempat sampah menggunakan sepeda setiap hari.
Jeff menganggap dirinya seperti tokoh Robin Hood yang memadukan aksi langsung anarkis. Ia hanya mencari barang di lingkungan yang lebih makmur dan memberikan sebagian besar hasil temuannya kepada orang lain.
Ia tidak pernah membeli sabun, perlengkapan mandi, peralatan medis, sepatu, pakaian, peralatan berkebun, hingga perkakas rumah tangga. Jeff mengumpulkan logam bekas untuk dijual ke tempat rongsokan dengan penghasilan sekitar $150 atau setara £110 setiap dua minggu, sementara istrinya menjual barang antik atau perhiasan melalui eBay.
Memanfaatkan Barang Bermerek hingga Perlengkapan Mandi
Praktik mencari barang di tempat sampah kini menjadi hal yang dibanggakan dan dibagikan secara daring. Millie Diamond, seorang penata busana asal London, rutin mengunggah video saat dirinya mengais tempat sampah untuk mencari kain dan pakaian yang dapat diubah menjadi busana baru.
Millie yang berusia 36 tahun memperkirakan salah satu gaun temuannya bernilai hingga £600. Ia mulai menyelam ke dalam tempat sampah setelah melihat kain-kain sisa dari sebuah bisnis yang tutup, yang ternyata berisi banyak pakaian vintage.
Sementara itu, bagi Charlotte Bayford di Essex, kunci utamanya adalah ketepatan waktu. Temuan terbaiknya didapat saat mahasiswa Universitas Essex pulang kampung saat libur musim panas dan meninggalkan barang-barang yang tidak ingin dibawa.
Barang-barang tersebut mencakup perlengkapan mandi setengah pakai yang membuat Charlotte tidak pernah membeli sampo selama delapan tahun terakhir. Selain mengisi rumahnya dengan barang-barang temuan dan mendonasikannya, asisten penjualan berusia 44 tahun ini juga mengambil makanan kaleng bersegel seperti kacang panggang Heinz yang masih layak makan.
Aspek Hukum Aktivitas Ini
Terkait legalitas mengambil barang dari tempat sampah, Jeff yang merupakan profesor sosiologi emeritus di Texas Christian University menjelaskan bahwa sejumlah kota di Amerika Serikat melarang praktik tersebut, termasuk New York, Cleveland, dan Wichita. Barang yang dibuang dianggap telah menjadi milik kota atau perusahaan penyedia layanan sampah, sehingga pelakunya terancam tuduhan pelanggaran batas.
Di Inggris, Sunjay Versani dari firma hukum Duncan Lewis Solicitors menyatakan bahwa hal tersebut bergantung pada situasinya. Pada banyak kasus yang melibatkan barang-barang yang benar-benar dibuang, penuntutan kecil kemungkinannya terjadi, namun tidak ada aturan umum bahwa barang secara otomatis bebas diambil hanya karena diletakkan di tempat sampah.
Sumber: BBC News








