Ledakan dahsyat yang mengguncang kota Aden di bagian selatan Yaman selama sebulan terakhir telah memicu kekhawatiran warga akan kembalinya konflik berskala besar. Kelompok Houthi Yaman melancarkan sejumlah serangan terhadap berbagai lokasi strategis di kota tersebut, termasuk bandara internasional, kamp militer, pelabuhan, serta istana kepresidenan.
Persiapan Menghadapi Krisis
Kekhawatiran akan jatuhnya korban jiwa dan runtuhnya institusi negara membuat seorang warga bernama Mohammed Abdul Malik mulai mengambil langkah-langkah pencegahan. Kepada Al Jazeera, ia menceritakan bahwa dirinya bersama rekan-rekan terdekat telah mulai membeli dan menimbun bahan pangan pokok seperti gula dan kebutuhan sehari-hari lainnya.
Jika situasi keamanan semakin memburuk, rencana cadangan Abdul Malik adalah melarikan diri bersama keluarganya dari Aden dan mencari suaka ke Shabwa di sebelah timur laut atau Hadramout di sebelah timur. Ia telah merencanakan jalur evakuasi, memeriksa kondisi kendaraannya, serta menyiapkan cadangan bahan bakar darurat agar siap berangkat kapan saja.
Konflik di Yaman kembali memanas dalam beberapa bulan terakhir setelah kelompok Houthi melancarkan ofensif besar pada awal September untuk merebut wilayah-wilayah yang dikuasai pemerintah di bagian barat. Meskipun sempat menikmati masa relatif tenang selama empat tahun, gelombang serangan rudal dan drone bulan ini telah menghancurkan ketenangan di Aden dan memicu ketakutan bahwa kelompok tersebut berniat merebut kota itu.
Abdul Malik menambahkan bahwa serangan-serangan tersebut telah mengganggu kehidupan sehari-hari, memaksa sebagian keluarga untuk membatasi aktivitas terutama pada malam hari di tengah suasana kecemasan yang melanda tempat kerja dan sekolah.
Dampak di Sekitar Bandara
Bandara Internasional Aden yang menjadi fasilitas penerbangan tersibuk di Yaman mengalami dampak paling parah akibat serangan rudal dan drone Houthi, yang berulang kali mengganggu jadwal penerbangan serta memaksa maskapai membatalkan atau mengalihkan rute. Ahmed Awadh, seorang warga di distrik Khor Maksar dekat bandara, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ledakan beruntun tersebut memberikan dampak psikologis yang berat bagi anak-anak.
Ledakan dahsyat membuat anak-anak terjaga dalam ketakutan dan tidak bisa tidur sepanjang malam, bahkan suara pesawat biasa kini memicu rasa takut di keluarganya. Akibat situasi ini, sekolah dan bisnis terganggu, sementara sebagian keluarga memilih mengirim kerabat yang rentan seperti anak-anak dan lansia ke provinsi tetangga Lahj dan Abyan.
Awadh bersama sepuluh anggota keluarganya menyikapi situasi tersebut dengan melarang anak-anak mendekati jendela saat terjadi serangan serta membuat grup WhatsApp bersama para tetangga untuk saling memantau kondisi setelah ledakan. Ia menegaskan bahwa bandara sipil serta infrastruktur publik lainnya tidak boleh menjadi target serangan.
Kritik Terhadap Pemerintah
Aden, yang menjadi kota terbesar kedua di Yaman setelah ibu kota Sanaa yang dikuasai Houthi, pernah mengalami kerusakan parah pada awal tahun 2015 akibat pertempuran sengit. Adeeb al-Shatri, seorang profesor jurnalisme di Universitas Aden dan Hadramout, menyatakan kepada Al Jazeera bahwa gelombang serangan rudal Houthi terbaru semakin menambah penderitaan di kota yang sudah dilanda kekacauan hukum dan ketidakamanan.
Al-Shatri mempertanyakan keputusan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional karena membiarkan Aden tanpa pertahanan udara memadai untuk mencegat rudal dan drone. Sementara itu, Menteri Informasi Yaman, Moammar al-Eryani, tidak merespons permintaan komentar dari Al Jazeera terkait kritik mengenai sistem pertahanan udara yang dinilai kurang optimal dalam melindungi kota.
Lebih lanjut, Al-Shatri menyebutkan bahwa hanya sebagian kecil warga Aden dari kalangan mampu yang sanggup menimbun makanan dan pasokan esensial untuk menghadapi situasi darurat, sementara sebagian besar warga lainnya sudah kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Meskipun demikian, ia menilai aktivitas warga di kota tersebut tetap berjalan normal kembali tidak lama setelah ledakan karena tuntutan untuk mencari nafkah demi bertahan hidup.







