Daftar Isi
Menutup hidangan di meja makan menggunakan tudung saji telah menjadi kebiasaan lama dalam kehidupan rumah tangga masyarakat Indonesia. Selain kepraktisannya dalam kehidupan sehari-hari, alat dapur ini juga memiliki nilai tradisi sekaligus aturan kesehatan yang perlu diperhatikan saat menyimpan makanan matang.
Kebiasaan ini salah satunya dijalankan oleh Putri (23), seorang penghuni kos yang rutin memasak untuk kebutuhan harian. Ia mengaku meniru kebiasaan ibunya sejak kecil untuk menutup masakan agar terhindar dari kotoran. Sebelum menggunakan tudung saji berbahan akrilik, ia sempat memanfaatkan piring atau tisu untuk menutup makanan yang disajikan.
Putri menuturkan kepada CNN Indonesia bahwa penggunaan tudung saji sangat efektif untuk kebutuhan dapurnya. Ia juga menilai pilihan tudung saji saat ini semakin beragam dan estetis dibanding model lama.
“Dari dulu di rumah, masakan ibu pakai tudung saji. Sekarang di kosan juga jadi meniru kebiasaan itu,” ujar Putri pada Jumat (16/10).
Bagian dari Tradisi dan Perkembangan Bahan
Di luar fungsi dapur harian, tudung saji memegang peran penting dalam kebudayaan masyarakat Melayu di Bangka Belitung melalui tradisi Nganggung. Dalam tradisi yang dikenal dengan slogan Sepintu Sedulang ini, warga membawa dulang berisi hidangan yang ditutup tudung saji ke masjid atau tempat pertemuan untuk disantap bersama sebagai bentuk gotong royong.
Berdasarkan riset dari Universitas Bangka Belitung, tradisi Nganggung berperan mempertahankan identitas budaya masyarakat setempat, meskipun kini mulai mengalami pergeseran dengan penggunaan rantang atau kotak nasi. Seiring perkembangan zaman, tudung saji tidak hanya hadir dalam bentuk jaring tradisional, tetapi juga menggunakan material modern seperti akrilik hingga baja nirkarat.
Batas Waktu Simpan dan Risiko Bakteri
Meskipun mampu melindungi hidangan dari debu dan serangga, penggunaan tudung saji tidak serta-merta membuat makanan aman disimpan dalam jangka waktu lama di suhu ruangan. Ahli gizi Adisty Pavitasari menjelaskan bahwa tudung saji berfungsi mencegah kontaminasi fisik, namun keamanan konsumsi tetap dipengaruhi oleh faktor suhu dan durasi penyimpanan.
Adisty menyampaikan pada Senin (19/10) bahwa makanan matang yang berada pada kisaran suhu 5 hingga 60 derajat Celsius berada dalam rentang zona bahaya (danger zone). Kondisi suhu tersebut membuat bakteri dapat berkembang biak secara cepat.
Ia memperingatkan keberadaan bakteri Bacillus cereus pada nasi matang yang dibiarkan terlalu lama di suhu tidak aman, karena berpotensi memicu keracunan makanan. Oleh sebab itu, makanan matang disarankan tidak dibiarkan berada di suhu ruang lebih dari dua jam dan sebaiknya segera dimasukkan ke dalam lemari pendingin dengan wadah kedap udara guna menghindari kontaminasi silang.
Perbandingan Tudung Saji Jaring dan Akrilik
Pemilihan jenis bahan tudung saji juga memengaruhi tingkat kelembapan makanan yang ditutup. Tudung saji berbahan jaring memiliki keunggulan pada sirkulasi udara sehingga uap panas tidak terperangkap, meski celah kecilnya masih berisiko kemasukan debu halus.
Sementara itu, tudung saji berbahan akrilik yang berdesain tertutup berisiko menahan uap panas dari makanan yang baru dimasak. Uap tersebut dapat mengembun menjadi titik-titik air di dalam penutup, sehingga menciptakan kondisi lembap yang mendukung pertumbuhan mikroba.
Untuk menghindari risiko tersebut, Adisty menyarankan agar masyarakat memastikan uap panas pada makanan sudah hilang sebelum ditutup dengan tudung saji akrilik. Baik model jaring maupun akrilik memiliki peran melindungi makanan dari paparan luar, tetapi keduanya tidak dapat menggantikan sistem penyimpanan makanan yang aman.







