Daftar Isi
Kelompok Houthi yang dahulu diremehkan kini tumbuh menjadi salah satu kekuatan bersenjata yang diperhitungkan di Timur Tengah. Berdasarkan laporan The Economist, kelompok pemberontak asal Yaman ini kini mulai bisa memproduksi persenjataannya sendiri, sebuah perubahan besar dari ketergantungan sebelumnya pada pasokan senjata dari Iran.
Awal Mula Kekuatan Militer Houthi
Perjalanan Houthi bermula pada 2014 ketika mereka berhasil merebut Sana’a, ibu kota Yaman. Keberhasilan tersebut memberikan mereka kendali wilayah sekaligus akses ke persenjataan militer, termasuk rudal Scud dan Tochka peninggalan era Soviet, melalui kerja sama sementara dengan mantan Presiden Ali Abdullah Saleh dan anggota militer yang setia kepadanya.
Perkembangan itu semakin cepat setelah Arab Saudi memimpin intervensi militer di Yaman pada 2015. Iran kemudian meningkatkan dukungannya dengan pasokan rudal balistik, drone, serta pelatihan. Selain itu, anggota Hizbullah dari Lebanon juga dilaporkan membantu meningkatkan kemampuan petempur Houthi dalam mengoperasikan persenjataan tersebut.
Beralih ke Produksi Senjata Mandiri
Seiring berjalannya waktu, Houthi mulai membangun kemampuan untuk merakit dan membuat senjata di dalam Yaman. Pada 21 September 2026, pemimpin Houthi Abdul-Malik al-Houthi mengklaim kelompoknya sudah mampu membuat senjata dari awal tanpa bergantung penuh pada pasokan negara lain.
Meskipun klaim tersebut belum sepenuhnya terbukti, Fabian Hinz selaku peneliti Conflict Armament Research (CAR) mengungkapkan bahwa kecepatan dan ambisi produksi militer Houthi telah mengejutkan para pengamat. Sebagian besar rancangan masih berasal dari Iran, namun beberapa drone jarak menengah dinilai sudah dapat dibuat dengan komponen yang sebagian besar tidak berasal dari Iran.
Penelitian Century International, bagian dari The Century Foundation, memperlihatkan perubahan besar dari ratusan barang sitaan yang diduga ditujukan kepada Houthi sepanjang 2013 hingga 2025. Jika pada tahun-tahun awal banyak ditemukan senjata utuh, maka pada periode 2024-2025 lebih dari 80 persen barang sitaan justru berupa komponen dan bahan untuk produksi senjata.
Jaringan Pasokan Senjata Meluas
Perubahan cara mendapatkan senjata ini juga diikuti oleh pergeseran negara asal barang. Berdasarkan penelitian Century International, sekitar 35 persen barang yang tercatat dalam penyitaan sepanjang 2021 hingga 2025 berasal dari China, sementara sekitar 21 persen berasal dari Iran.
Barang-barang tersebut sering kali merupakan produk industri dengan kegunaan sipil yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan militer atau dikenal sebagai produk dual-use. Departemen Keuangan AS pada Juni 2024 menjatuhkan sanksi kepada Ali al-Wazir, seorang pengusaha asal Yaman yang berbisnis di Guangzhou, China, karena dituduh terlibat dalam pengadaan barang yang membantu Houthi memproduksi senjata.
Pada Oktober 2026, penelitian CAR kembali menemukan komponen khusus yang dikaitkan dengan upaya Houthi memproduksi rudal balistik berdasarkan rancangan Iran pada pengiriman yang disita di Pelabuhan Aden.
Kompleksitas Penghentian Pasokan Houthi
Besarnya jaringan perdagangan membuat kelompok tersebut tetap mampu mengembangkan kekuatan militernya di tengah embargo senjata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta sanksi berulang dari AS. Jaringan pasokan tersebut melibatkan berbagai wilayah di Timur Tengah, Afrika, hingga Asia.
Kondisi keamanan Yaman yang terpecah akibat perang saudara membuat pengawasan menjadi sulit dan upaya penyelundupan sering kali tidak berjalan efektif. Banyak barang yang masuk ke wilayah tersebut merupakan produk perdagangan biasa yang baru menjadi persoalan ketika dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan militer.
Dampak Hubungan Houthi dan Iran
Kemampuan membuat persenjataan sendiri membuat Houthi semakin tahan ketika pasokan dari Teheran terganggu. Bagi Iran, kondisi tersebut memberikan keuntungan karena sekutunya dapat melanjutkan aktivitas militer meskipun Iran sendiri tengah menghadapi tekanan.
Namun, kemandirian tersebut juga membuat Houthi semakin sulit dikendalikan oleh Iran karena mereka memiliki ruang lebih besar untuk mengambil keputusan berdasarkan kepentingannya sendiri. Houthi kini berambisi memperluas hubungan dengan Rusia serta sejumlah kelompok bersenjata di Afrika untuk menjadi kekuatan utama yang menentukan masa depan Yaman.








