Kegagalan Jean-Philippe Mateta dalam membatalkan tahun terakhir kontraknya pada musim panas lalu berlanjut dengan tindakan merugikan di lapangan yang mengancam posisi Crystal Palace. Klub berjuluk The Eagles tersebut gagal memanfaatkan peluang untuk menyelamatkan diri dan justru menyeret Manchester United semakin dalam ke zona degradasi setelah hanya membutuhkan satu poin.
Kegagalan Memanfaatkan Peluang
Crystal Palace sebenarnya memiliki catatan positif dalam lawatan sebelumnya ke markas Tottenham Hotspur di London utara dengan meraih kemenangan pada dua kunjungan terakhir, termasuk pada bulan Maret lalu. Namun, kartu merah kembali mengubah jalannya pertandingan secara drastis seperti yang terjadi tujuh bulan sebelumnya.
Pada laga tersebut, Micky van de Ven sempat diusir keluar lapangan pada menit ke-38 ketika Spurs sedang unggul satu gol, yang membuat mereka akhirnya tertinggal 1-3 saat babak pertama usai. Kali ini, giliran Mateta yang melakukan pelanggaran keras terhadap Van de Ven di garis tengah lapangan sehingga wasit memberikan kartu merah.
Dominasi Tuan Rumah
Meskipun penguasaan bola Crystal Palace sebelumnya hanya berada di kisaran seperempat bagian, rencana permainan mereka hancur total setelah insiden kartu merah tersebut. Selama hampir 50 menit pertandingan berjalan, skuad asuhan Pierre Sage kesulitan mengembangkan permainan dengan menempatkan Yeremy Pino di lini depan yang didukung Dwight McNeil, Adam Wharton, dan Daichi Kamada.
Situasi tidak banyak berubah ketika Eddie Nketiah dimasukkan sebagai penyerang murni. Selepas kartu merah, Spurs mendominasi penguasaan bola hingga di atas 80 persen dan mencatatkan 34 tembakan berbanding satu milik lawan, sebelum akhirnya memastikan kemenangan melalui gol bola mati dari Archie Gray dan Jan Paul van Hecke.
Meskipun tampil dominan, Spurs sempat dibuat cemas oleh satu peluang emas Crystal Palace dari Dwight McNeil yang berhasil diblok oleh Dominic Solanke di dalam kotak penalti. Kemenangan ini memperpanjang tren positif Spurs meraih tiga kemenangan beruntun di Liga Inggris sejak Februari 2025.
Di sisi lain, Crystal Palace kini menghadapi ancaman nyata terhadap status mereka di Liga Inggris. Pelatih Pierre Sage harus menghadapi situasi sulit akibat keputusan-keputusan ceroboh yang dibuat oleh para pemainnya sendiri, terutama oleh Mateta dan Axel Disasi.








