Lifestyle

Peqho Teater Gelar Tur Monolog Sunda Monda Pelesiran

Peqho Teater Gelar Tur Monolog Sunda Monda Pelesiran
Daftar Isi
  1. Tiga Pertunjukan dalam Satu Panggung
  2. Tujuan Pelestarian Identitas Lokal
  3. Jadwal Tur Lima Kota

Kelompok seni Peqho Teater kembali menggelar pertunjukan panggung melalui karya terbaru berjudul Monda Pelesiran. Pementasan roadshow yang memadukan monolog dan seni pertunjukan berbahasa Sunda ini dikemas dalam gaya kontemporer.

Tiga Pertunjukan dalam Satu Panggung

Pertunjukan ini menyajikan tiga karya sekaligus dalam satu panggung untuk dinikmati penikmat seni. Karya pertama berjudul Copong (Kosong), sebuah monolog karya Nazarudin Azhar yang dibawakan oleh Aditya Lakon dengan memadukan unsur realis dan surealis guna membedah keresahan jiwa manusia di perkotaan.

Karya kedua bertajuk Ngeunteung (Bercermin) yang ditulis oleh Teddi Muhtadin, disutradarai oleh Heksa Ramdono, serta dimainkan oleh aktor pantomim Dede Dablo. Pertunjukan surealis ini menggabungkan monolog dan gerak pantomim sebagai ajakan refleksi diri kepada Sang Pencipta serta bentuk penghormatan kepada para leluhur.

Bagian terakhir adalah MaAink (Terserah Gua) yang digarap oleh Adjie N.A. sebagai penulis naskah sekaligus sutradara. Pertunjukan seni kontemporer ini melibatkan delapan aktor dari hasil audisi lintas komunitas di Jakarta dengan mengangkat isu individualisme serta arus informasi digital, lalu ditutup lewat lantunan tembang klasik Sunda, Pupuh Maskumambang.

Tujuan Pelestarian Identitas Lokal

Sutradara sekaligus penggagas acara, Adjie N.A., menyatakan alasan di balik keputusan membawa seni pertunjukan berbahasa Sunda ke luar Jawa Barat seperti Solo dan Yogyakarta. Menurutnya, menjadi bagian dari bangsa Indonesia tidak berarti seseorang harus mengikis identitas budaya lokalnya.

“Kenapa? Karena menurut saya, bahasa Sunda itu adalah salah satu kekayaan Indonesia. Menjadi Indonesia itu bukan berarti kita kehilangan akar bahasa, tapi justru harus dipertahankan,” ujar Adjie ketika ditemui di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, seperti dilaporkan Hot – Detikcom.

Adjie menambahkan, pementasan Monda Pelesiran bertujuan membuktikan bahwa naskah serta bahasa tradisi dapat dikemas secara kontemporer agar bisa dinikmati oleh masyarakat dari berbagai kalangan budaya.

“Kita ingin berbagi bahwa, ‘Eh, bisa lho dengan format kontemporer, bisa lho dengan format yang begini’,” ucapnya.

Jadwal Tur Lima Kota

Rangkaian tur Monda Pelesiran dijadwalkan berlangsung di lima kota besar di Indonesia sepanjang November hingga Desember 2026. Pementasan dimulai di Surakarta pada 4 November 2026 di Taman Budaya Jawa Tengah, disusul Yogyakarta pada 7 November 2026 di IFI (Institut Français d’Indonésie).

Perjalanan berlanjut ke Depok pada 21 November 2026 di Sagala Rumah Studio, lalu Bandung pada 28 November 2026 di Gedung De Majestic, dan terakhir di Jakarta pada Desember 2026 yang jadwalnya masih bersifat tentatif. Informasi lengkap mengenai tiket dan rincian acara dapat dipantau melalui akun Instagram resmi Peqho Teater.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *