Perubahan kurikulum pendidikan yang diberlakukan di Suriah memicu gelombang kritik serta kontroversi di media sosial. Sejumlah penyesuaian tersebut mencakup penambahan hijab pada figur perempuan, penghapusan gambar anak-anak, penutupan patung, hingga penggantian berbagai karya seni.
Perubahan Visual Buku Pelajaran
Berdasarkan laporan Euro News seperti dilansir CNBC Indonesia, kebijakan tersebut memicu perdebatan mengenai standar peninjauan kurikulum oleh Kementerian Pendidikan serta pertimbangan terhadap keragaman sosial dan budaya di Suriah.
Seorang pengguna media sosial X asal Suriah menunjukkan perbandingan buku pelajaran edisi lama dan edisi revisi. Perubahan visual itu meliputi karakter guru perempuan yang diberi hijab, perempuan mengenakan gamis panjang, penghapusan gambar perempuan, hingga penutupan serta penggantian patung dan karya seni.
Kontroversi utama tertuju pada perubahan visual lukisan dan ilustrasi ekspresif. Panitia menghapus lukisan terkenal “Mona Lisa” serta menghilangkan ilustrasi seorang anak perempuan bermain lompat tali bersama dua anak lainnya dalam buku pelajaran anak usia dini.
Kontroversi Patung Firaun dan Peta
Salah satu contoh revisi yang menuai cemoohan warganet adalah patung Firaun yang diberi tambahan kemeja bergaris, yang dinilai mirip dengan seragam penjara.
Revisi kurikulum ini turut berdampak pada peta di buku sekolah. Distrik Iskenderun dan Golan Suriah yang berada di bawah pendudukan dilaporkan hilang dari peta, sementara satu paragraf mengenai peran perempuan Suriah dalam menentang Mandat Prancis juga dihapus.
Para pengamat dan kritikus menuding pemerintah berupaya menanamkan ideologi tertentu lewat sistem pendidikan. Mereka menilai modifikasi visual karakter perempuan dan penghapusan warisan seni global mencerminkan upaya membentuk ulang persepsi anak-anak serta menciptakan identitas sosial baru.
Menanggapi hal tersebut, Kementerian Pendidikan Suriah mengeluarkan pernyataan resmi pada hari Senin untuk membantah berbagai tuduhan yang muncul. Kementerian menyatakan bahwa penyesuaian kurikulum semata-mata berfokus untuk menghapus konten serta simbol ideologis rezim yang telah digulingkan, serta mengoreksi materi terkait demi menjaga keberagaman masyarakat Suriah serta menguatkan kehadiran seluruh komponen dan budaya.








