luar negeri

Dampak Pemilu Midterm AS Terhadap Kebijakan Donald Trump

Dampak Pemilu Midterm AS Terhadap Kebijakan Donald Trump
Daftar Isi
  1. Dampak Pemilu Paruh Waktu AS
  2. Kebuntuan Politik di Israel
  3. Buntu Isu Nuklir
  4. Peran Selat Hormuz
  5. Kelompok Houthi di Yaman
  6. Mediator Regional dan Kalkulasi Ekonomi

Partai Republik menghadapi pemilu paruh waktu di tengah situasi pemerintahan Donald Trump yang belum mampu menyelesaikan konflik dengan Iran. Sejumlah pakar internasional memetakan berbagai faktor penentu yang dapat memicu perdamaian atau justru memperluas eskalasi perang di kawasan tersebut.

Dampak Pemilu Paruh Waktu AS

Kemenangan dari Partai Demokrat berpotensi mendorong Trump agar lebih memusatkan perhatian pada persoalan domestik sekaligus membuka biaya finansial perang di hadapan Kongres AS, seperti disampaikan Omid Memarian dari lembaga riset DAWN kepada Deutsche Welle. Meski demikian, Trump dinilai tetap bisa melanjutkan serangan terbatas terhadap Iran meskipun tanpa deklarasi perang formal.

Menurut Memarian, Iran saat ini tengah melakukan pertaruhan besar menghadapi figur pemimpin yang bertindak di luar kerangka politikus konvensional. Pandangan senada diungkapkan oleh Babak Rezaeedaryakenari, profesor hubungan internasional dari Universitas Leiden, yang menyatakan bahwa presiden memiliki kebebasan luas dalam kebijakan luar negeri sehingga kekalahan Partai Republik di Kongres tidak serta-merta menghentikan aksi serangan baru.

Kebuntuan Politik di Israel

Hasil pemilu Israel berakhir tanpa pemenang mutlak dari kubu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu maupun kubu penantang Gadi Eisenkot. Memarian menilai ketidakpastian politik ini dapat mendesak Netanyahu mengambil keputusan besar selama masih memegang kekuasaan, menjadikan masa transisi ini sebagai periode paling rapuh menuju eskalasi baru.

Pergantian pemerintahan di Israel diprediksi tidak mengubah secara fundamental kebijakan terhadap Iran, meski Eisenkot dinilai lebih kooperatif dengan Washington. Menurut Rezaeedaryakenari, kekhawatiran keamanan Israel tidak bertumpu semata pada sosok Netanyahu, melainkan didukung oleh struktur pertahanan dan koalisi yang turut menentukan risiko konfrontasi.

Buntu Isu Nuklir

Program nuklir Iran tetap menjadi persoalan utama yang belum terselesaikan di tengah penolakan AS atas klaim program sipil Teheran. Memarian menjelaskan bahwa Washington menuntut konsesi awal sebelum perundingan dimulai, sementara Iran meminta pencabutan sanksi serta pencairan aset terlebih dahulu.

Analis politik asal Finlandia, Leila Morovati, menyebut program nuklir sebagai inti dari ketegangan karena dipandang Teheran sebagai jaminan kelangsungan hidup sekaligus alat tawar. Di sisi lain, Washington khawatir kehadiran nuklir Iran akan merombak kalkulasi keamanan jangka panjang di Timur Tengah.

Peran Selat Hormuz

Sebelum perang dimulai, sekitar dua puluh persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, namun Iran kemudian memangkas ekspor energi tersebut sebagai alat tekan terhadap AS dan Israel. Menurut Memarian, pembatasan di selat tersebut tidak akan otomatis memicu eskalasi kecuali Washington memutuskan untuk melancarkan serangan yang lebih luas demi mengubah posisi Teheran.

Kelompok Houthi di Yaman

Kelompok pemberontak Houthi di Yaman terus meluncurkan serangan terhadap jalur energi di Laut Merah serta infrastruktur Arab Saudi. Memarian menilai aksi Houthi didorong oleh perhitungan pragmatis domestik, meski demikian Amerika Serikat tetap berpotensi menggunakan tindakan tersebut sebagai alasan untuk melancarkan serangan ulang ke Iran.

Rezaeedaryakenari memberikan pandangan berbeda bahwa serangan kelompok Houthi dapat memperluas cakupan perang sekaligus mempercepat pembentukan koalisi regional. Negara-negara yang menghindari perang langsung dengan Teheran, menurutnya, dapat beralih pada kerja sama militer yang lebih erat untuk mengamankan perdagangan.

Mediator Regional dan Kalkulasi Ekonomi

Di tengah mandeknya perundingan langsung, perhatian dunia tertuju kepada Qatar, Oman, Pakistan, dan Arab Saudi yang berupaya mencegah perluasan konflik. Morovati memperingatkan bahwa kegagalan Amerika Serikat dalam melindungi sekutu-sekutu Arabnya dapat mendorong negara-negara tersebut berpaling kepada kekuatan rival.

Tekanan ekonomi dan tingginya harga energi diakui menjadi kelemahan utama bagi seluruh pihak yang terlibat dalam perang ini. Kendati demikian, Memarian menyatakan bahwa masing-masing pihak masih meyakini penambahan tekanan militer dan ekonomi akan memperkuat posisi tawar mereka dalam perundingan masa depan.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *