Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa pertempuran dan serangan pesawat tanpa awak di wilayah utara Ethiopia tengah mendorong sistem kesehatan yang rapuh di negara tersebut menuju ambang keruntuhan.
Dampak Konflik dan Serangan Drone
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan dalam sebuah pernyataan pada Senin bahwa konflik antara kelompok pemberontak dari kawasan Tigray utara dan pemerintah di Addis Ababa telah menewaskan sejumlah warga sipil dalam beberapa hari terakhir serta membebani fasilitas medis.
Tedros memperingatkan bahwa jika pertempuran terus berlanjut, semakin banyak warga yang berisiko kehilangan akses terhadap layanan kesehatan esensial. Layanan tersebut mencakup perawatan darurat, kesehatan ibu dan anak, serta pengobatan untuk berbagai penyakit.
Berdasarkan informasi dari pihak yang terlibat dalam operasi penyelamatan kepada kantor berita Reuters, sedikitnya 15 orang, termasuk beberapa anak-anak, tewas dalam serangkaian serangan drone yang menghantam sebuah kamp pengungsi di wilayah Amhara pada Jumat.
Tedros, yang merupakan tokoh asal Tigray, mengonfirmasi bahwa anak-anak termasuk di antara korban tewas di kamp pengungsian Jaari 2 di Amhara. Sementara itu, di Rama yang terletak di wilayah tetangga Tigray, sejumlah orang dilaporkan tewas ketika sedang mencari makanan.
Krisis Fasilitas Medis
Meskipun tidak menyebutkan total korban secara keseluruhan maupun pihak pelaku serangan, Tedros memperingatkan bahwa serangan drone dan korban dari kalangan sipil semakin sering terjadi di berbagai wilayah Ethiopia. Kondisi ini memperparah masalah kesehatan masyarakat dan kemanusiaan.
Tedros menjelaskan bahwa rumah sakit-rumah sakit menghadapi kekurangan tenaga medis, obat-obatan, dan peralatan. Layanan ambulans juga sangat terbatas, sementara faktor keamanan menghambat distribusi pasokan medis penyelamat jiwa ke sejumlah daerah.
Pihak WHO bersama lembaga-lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa lainnya berupaya mengirimkan tambahan pasokan medis. Tedros mendesak perlindungan bagi warga sipil serta meminta agar tenaga kesehatan dan produk medis diizinkan mencapai masyarakat yang membutuhkan.
Pertempuran kembali pecah akibat pertempuran antara aliansi pemberontak Tigray dan pemerintah Addis Ababa, yang praktis merusak perjanjian damai November 2022 di antara kedua belah pihak dan memicu kekhawatiran akan konflik yang lebih luas.








